<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Markazassunnah's Blog</title>
	<atom:link href="http://markazassunnah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://markazassunnah.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jan 2012 13:18:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='markazassunnah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Markazassunnah's Blog</title>
		<link>http://markazassunnah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://markazassunnah.wordpress.com/osd.xml" title="Markazassunnah&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://markazassunnah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>BULAN RAMADHAN; ANTARA PAHALA DAN DOSA</title>
		<link>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/08/05/bulan-ramadhan-antara-pahala-dan-dosa/</link>
		<comments>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/08/05/bulan-ramadhan-antara-pahala-dan-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 23:30:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>markazassunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[As Sunan Al Hauliyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazassunnah.wordpress.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[    Bulan Ramadhan memiliki  banyak keutamaan dibandingkan  bulan-bulan lainnya; di dalamnya al-Qur`an diturunkan, puasa yang merupakan salah satu rukun Islam juga diwajibkan pada bulan iniو malam yang lebih baik dari seribu bulan juga ada dalam bulan ini dan di samping itu semua, segudang fadhilah lain pun menanti di bulan mubarak ini. Dari Abu Hurairah radhiyallohu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=337&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">    Bulan Ramadhan memiliki  banyak keutamaan dibandingkan  bulan-bulan lainnya; di dalamnya al-Qur`an diturunkan, puasa yang merupakan salah satu rukun Islam juga diwajibkan pada bulan iniو malam yang lebih baik dari seribu bulan juga ada dalam bulan ini dan di samping itu semua, segudang fadhilah lain pun menanti di bulan mubarak ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallohu alaihi wasallam memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan sabdanya:</p>
<h2 style="text-align:justify;">قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ</h2>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang </em><em>mubarak (</em><em>diberkah</em><em>i)</em><em>. Allah </em><em>subhanahu wa ta’ala</em><em> mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan di</em><em>belenggu</em><em>. Juga terdapat dalam bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikan lailatul qadr, maka ia orang yang terhalang dari kebaikan</em>.&#8221; <strong>(</strong><strong>HR. Nasa`i</strong><strong> dan Ahmad serta dinyatakan shahih oleh Albani)</strong><strong>.</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">         Ramadhan adalah tamu yang datang sebagai nikmat yang sangat besar bagi hamba-hamba Allah; di bulan ini para hamba Allah berkompetisi dengan sekian banyak jenis ibadah untuk meraih predikat termulia yaitu taqwa.</p>
<p style="text-align:justify;">          Secara umum, seluruh jenis kebaikan yang dianjurkan dalam syariat Islam hendaknya dioptimalkan kuantitas dan kualitasnya di bulan Ramadhan, namun ada beberapa amalan khusus yang sangat dianjurkan di bulan ini, diantaranya:<span id="more-337"></span><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.              </strong><strong>Puasa</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan berpuasa di bulan Ramadhan sebagai salah satu rukun Islam. Firman Allah Azza wa Jalla (artinya):</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. </em><strong>(QS. Al-Baqarah:183)</strong><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda:</p>
<h2 style="text-align:justify;">بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةُ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ.</h2>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Islam didirikan di atas lima perkara, yaitu bersaksi bahwa tidak Ilah yang berhak disembah selain Allah  dan Muhammad  adalah rasul Allah  mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan pergi </em><em>haji </em><em>ke Baitul Haram</em>.&#8221; <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara sekian banyak amalan yang dianjurkan di bulan suci Ramadhan, maka puasa adalah amalan yang terbaik karena hukumnya wajib. Allah Azza wa Jalla mencintai para hamba-Nya yang melakukan ibadah-ibadah yang wajib sebelum memperbanyak amalan-amalan yang disunnahkan. Dalam hadits qudsi Allah berfirman</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">﴿&#8230;وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ &#8230;﴾</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>&#8230;tidaklah seorang hambaku bertaqarrub kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai melebihi apa yang aku wajibkan atasnya&#8230;</em>” <strong>(HR. Bukhari).</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Puasa di bulan Ramadhan merupakan penghapus dosa-dosa yang terdahulu apabila dilaksanakan dengan ikhlas berdasarkan iman dan hanya mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala,  Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah </em>subahanahu wa ta’ala<em>, niscaya diampuni dosa-dosanya telah lalu</em>.&#8221; <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Inti dari puasa adalah mengekang hawa nafsu. Tidak melakukan apa yang Allah larang pada saat berpuasa walaupun mungkin mubah di luar bulan Ramadhan. Jadi puasa yang berpahala hanyalah yang mampu menghindarkan diri orang yang berpuasa dari hal-hal yang bisa merusak pahala puasa tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“(Hakikat) p</em><em>uasa bukanlah </em><em>(sekadar) </em><em>menahan diri dari makan dan minum, </em><em>akan tetapi puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang sia-sia dan keji. Jika seseorang mengumpatmu atau berlaku jahil atasmu maka katakan, “Aku seorang yang berpuasa, aku seorang yang berpuasa”</em>    <strong>(HR. Ibnu Khuzaimah, Hakim dan Baihaqi serta dishahihkan oleh Albani)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadits yang lain beliau mengingatkan,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Boleh jadi ada seorang yang berpuasa dan bagian yang didapatkannya hanyalah lapar dan haus serta boleh jadi seorang yang shalat malam akan tetapi bagian yang didapatkannya hanyalah begadang.</em>” <strong>(HR. Ibnu Majah dan Ahmad serta dishohihkan oleh Albani).</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang berpuasa seyogyanya menghindarkan dirinya dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, apatah lagi jika mengandung dosa. Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya maka Allah tidak berkepentingan terhadap apa yang dilakukannya berupa meninggalkan makan dan minum” </em><strong>(HR. Bukhari).</strong></p>
<p style="text-align:justify;">       Sejatinya, orang yang berpuasa meninggalkan hal-hal terlarang. Tapi justru kita melihat fenomena sebagian umat Islam masih banyak yang tenggelam dalam kemaksiatan atau paling tidak hal-hal yang sia-sia, seperti menghabiskan waktu untuk menikmati berbagai hiburan di TV atau radio, bermain kartu, catur dan semacamnya. Para remaja juga banyak asyik dengan balapan motor pada waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk tadarrus Al Quran. Semua itu sangat dikhawatirkan jadi penyebab amalan puasa mereka tidak menuai pahala di sisi Allah. Karena itu, agar seorang muslim tidak terjatuh dalam perbuatan yang sia-sia hendaknya menata waktu sebaik-baiknya dan mengagendakan program ibadah yang akan dilakukannya selama bulan suci ini. Camkanlah setiap detik yang Anda lalui dalam bulan suci Ramadhan sangat bernilai untuk kebahagiaan dunia dan akhirat anda.</p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>2.              </strong><strong>Membaca al-Qur`an</strong></p>
<p style="text-align:justify;">      Al-Qur`an adalah pegangan dan pedoman hidup seorang muslim, karena itu sangat dianjurkan untuk dibaca pada setiap waktu dan kesempatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Tabaraka wa ta’la berfirman (artinya):</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al Quran) dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”           </em><strong>(QS. Fathir:29)</strong><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">اِقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Bacalah al-Qur`an, sesungguhnya ia datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi </em><em>orang yang akrab dengannya” </em><strong>(</strong><strong>HR. Muslim</strong><strong>)</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">     Membaca al-Qur`an lebih dianjurkan lagi pada bulan Ramadhan, karena pada bulan itulah diturunkan al-Qur`an.</p>
<p style="text-align:justify;">Firman Allah Azza wa Jalla:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). </em><strong>(QS: al-Baqarah:185).</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shallallohu alaihi wasallam yang saban hari membaca Al Quran ketika datang bulan Ramadhan beliau makin memperbanyak, seperti diceritakan dalam hadits &#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha, beliau bertutur:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">وَلاَ أَعْلَمُ نَبِيَّ الله ِقَرَأَ الْقُرْآنَ كُلَّهُ فِى لَيْلَةٍ, وَلاَ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى يُصْبِحَ وَلاَ صَامَ شَهْرًا كَامِلاً غَيْرَ رَمَضَانَ.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Saya tidak mengetahui Rasulullah </em>shallallohu alaihi wasallam<em> </em><em>pernah mengkhatamkan</em><em> </em><em>al-Qur`an </em><em>dalam waktu hanya semalam</em><em>, s</em><em>halat</em><em> sepanjang malam, dan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan</em>.&#8221; <strong>(</strong><strong>HR. Ahmad</strong><strong> dan Nasai serta dishahihkan oleh Albani)</strong><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">          Dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma yang diriwayatkan Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam melakukan tadarus al-Qur`an bersama Jibril alaihis salam di setiap bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align:justify;">      Para Salaf Sholeh sangat memahami keutamaan memperbanyak membaca Al Quran di bulan Ramadhan. Imam Zuhri ketika ditanya tentang amalan yang dianjurkan di bulan Ramadhan beliau menjawab. “<em>Bulan Ramadhan hanyalah untuk membaca Al Quran dan memberi makan fakir miskin</em>”.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Ramadhan telah masuk, Imam Sufyan Ats Tsauri meninggalkan ibadah-ibadah sunnah lain untuk konsentrasi membaca Al Quran.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Malik pada saat masuk bulan Ramadhan beliau menghindari majelis ilmu untuk memfokuskan dirinya membaca Al Quran.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Aswad menamatkan Al Quran di bulan Ramadhan setiap dua malam begitu pula Nakha-i terutama pada 10 terakhir bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang tabi’in mulia yang bernama Qatadah bin Di’amah As Sadusi menamatkan Al Quran setiap 3 hari selama bulan Ramadhan dan pada sepuluh terakhir beliau tamatkan setiap malamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah keduanya menamatkan Al Quran selama bulan Ramadhan sebanyak 60 kali dan itu dibacanya di luar shalat.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana dengan kita para pengaku pencinta dan pengikut Salaf? Seharusnya setiap kita menargetkan untuk mengkhatamkan Al Quran pada bulan Ramadhan minimal sekali. Siapa yang tidak mampu mengkhatamkan di bulan ini berarti dia tidak akan mampu mengkhatamkannya di bulan selainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>3.              </strong><strong>Menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan dengan melaksanakan shalat Tarawih berjamaah di mesjid</strong><a title="" href="#_ftn1"><strong>(1)</strong></a><strong> </strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">         Shalat lail merupakan salah satu di antara shalat yang hukumnya <em>sunnah muakkadah</em> yang sangat ditekankan untuk dilaksanakan, dan dia merupakan shalat sunnah yang paling afdhal.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda : <strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Shalat yang paling afdhal sesudah shalat wajib adalah shalat lail” </em>   <strong>(</strong><strong>HR. Muslim)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu shalat lail pada bulan Ramadhan yang dikenal dengan nama shalat Tarawih, lebih dianjurkan dan dikuatkan hukumnya dari bulan-bulan lainnya karena dikerjakan pada bulan yang paling afdhal.</p>
<p style="text-align:justify;">Diantara dalil yang menunjukkan keutamaan shalat tarawih adalah sabda Rasulullah shallallohu alaihi wasallam :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em> “Barang siapa yang me</em><em>laksanakan </em><em>qiyam Ramadhan / shalat Tarawih dengan dasar iman dan ikhlas (mengharapkan pahala), maka diampuni baginya dosa yang telah lampau”.</em><em> </em><strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">     Tidak sebagaimana lazimnya shalat sunnah lain yang afdhalnya ditunaikan di rumah adapun shalat tarawih maka dia dianjurkan dilakukan secara berjamaah di mesjid-mesjid kaum muslimin. Hal ini berdasarkan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dan dihidupkan lagi oleh khalifah Umar bin Khaththab radhiyallohu anhu serta terus dilestarikan oleh kaum muslimin di seluruh dunia hingga hari ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shallallohu alaihi wasallam telah menyebutkan keutamaan shalat tarawih secara berjamaah dalam hadits yang diceritakan oleh Abu Dzar radhiyallohu anhu,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتِّى ينْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامَ لَيلَةٍ …</p>
<p style="text-align:justify;"><em> “Sesungguhnya barang siapa yang shalat </em><em>(tarawih) </em><em>bersama imam hingga selesai maka dicatat baginya (seperti) dia shalat (tarawih) sepanjang malam”.</em> (<strong>HR. </strong><strong>Ashhabus Sunnan dan dishohihkan oleh Albani)</strong><strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">     Imam Abu Dawud rahimahulloh menuturkan : “Saya pernah mendengar Imam Ahmad ditanya : “<em>Yang mana lebih engkau sukai seseorang </em><em>shalat Tarawih di bulan Ramadhan berjamaah atau sendirian ?</em>, Beliau menjawab : <em>“Shalat berjamaah</em>”. Dan beliau (Imam Ahmad) pernah berkata : “<em>Saya menyukai seseorang shalat bersama imam dan ikut witir bersamanya karena Nabi </em>shallallohu alaihi wasallam<em> bersabda : “Sesungguhnya seseorang jika shalat bersama imam hingga selesai maka Allah mencatat baginya (pahala) shalat sepanjang malam”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Imam Abu Dawud rahimahulloh berkata : “Imam Ahmad pernah ditanya (lagi) sedang saya mendengar : “<em>Apakah (lebih afdhal) mengakhirkan shalat Tarawih hingga akhir malam </em>?”, beliau menjawab : “<em>Tidak, kebiasaan kaum muslimin lebih saya sukai</em>”.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkata Asy Syaikh Al Albani rahimahulloh ketika menjelaskan perkataan Imam Ahmad yang terakhir ini : “<em>Yakni beliau lebih menyukai shalat Tarawih secara berjamaah di awal waktu dibandingkan shalat sendirian di akhir malam, walaupun shalat yang dilaksanakan di akhir malam mempunyai keutamaan khusus, namun berjamaah lebih afdhal karena Rasulullah </em><em>shallallohu alaihi wasallam telah</em><em> melaksanakannya dan menghidupkannya bersama kaum muslimin di masjid. Oleh karena itu hal ini (shalat Tarawih berjamaah) terus dilakukan oleh kaum muslimin sejak zaman Umar </em><em>radhiyallohu anhu</em><em> hingga saat ini</em>”.</p>
<p style="text-align:justify;">          Fenomena menggembirakan yang ada di tengah masyarakat kita antusias untuk mengerjakan shalat tarawih cukup besar akan tetapi hal yang perlu diingatkan kepada setiap muslim yang merindukan pahala dari shalatnya agar melaksanakan shalat tarawih ini dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah karena boleh jadi seseorang mengerjakan shalat tapi tidak mendapatkan pahala shalatnya bahkan boleh jadi di sisi Allah dia tidak dianggap shalat. Karena itu sebaiknya kita memilih mesjid yang imamnya melaksanakan shalat dengan thuma’ninah agar ruh dari sholat bisa kita raih dan keberkahan tarawih di bulan suci ini bisa kita rasakan.</p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>4.              </strong><strong>Memperbanyak doa</strong></p>
<p style="text-align:justify;">       Dalam rangkaian ayat Al-Qur’an mengenai puasa di bulan Ramadhan terselip suatu ayat yang secara khusus membicarakan soal berdoa. Allah Azza wa Jalla berfirman, (artinya):<br />
<em>“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” <strong>(QS Al-Baqarah ayat 186)</strong></em><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini, “Allah Ta’ala menyebut ayat ini yang memotivasi untuk berdoa terletak diantara ayat-ayat tentang hukum puasa sebagai arahan agar bersungguh-sungguh berdoa pada saat menyempurnakan bulan puasa bahkan pada setiap berbuka puasa”</p>
<p style="text-align:justify;">        Bulan Ramadhan merupakan bulan di mana orang beriman mempunyai kesempatan begitu luas untuk berdoa kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Dan waktu-waktu <em>mustajab</em> (saat doa berpeluang besar dikabulkan Allah) tersebar dalam beberapa momen khusus sepanjang Ramadhan. Maka, saudaraku, manfaatkan kesempatan emas dengan mengajukan berbagai permintaan kepada Allah ta&#8217;aala terutama doa-doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam  seperti doa pada saat berbuka puasa, menghadiri jamuan buka puasa, setelah shalat witir dan lain-lain<a title="" href="#_ftn2">(2)</a>. <strong></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5.              </strong><strong>Memperbanyak sedekah: </strong></p>
<p style="text-align:justify;">    Rasulullah shallallohu alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau makin bertambah di bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma, beliau berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Rasulullah </em><em>r</em><em> adalah manusia yang paling </em><em>dermawan</em><em>, dan beliau lebih </em><em>dermawan</em><em> lagi di bulan </em><em>Ramadhan </em><em>saat Jibril </em><em>alaihis salam</em><em> menemui beliau</em>, …     (<strong>HR. Bukhari</strong><strong>)</strong><strong>.</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">       Diantara bentuk sedekah yang dianjurkan pada bulan suci ini adalah memberikan buka puasa terutama bagi fakir miskin</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Barangsiapa yang memberikan buka puasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa harus mengurangi pahala orang berpuasa itu sedikit pun</em>” <strong>(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah serta dishahihkan oleh Albani)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">     Apakah anda menginginkan puasa Ramadhan anda tahun ini nilainya dua kali lipat? Apakah anda mengharapkan pahala dua Ramadhan dalam satu Ramadhan yang anda jalani? Perhatikan hadits di atas ternyata kita berpeluang untuk mewujudkan keinginan kita itu dengan cara memberikan buka puasa kepada orang yang berpuasa. Dikisahkan bahwa sahabat yang mulia Abdullah bin Umar radhiyallohu anhuma jika berpuasa beliau senantisa berbuka bersama orang-orang miskin</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong>6.              </strong><strong>Melaksanakan ibadah umrah: </strong></p>
<p style="text-align:justify;">     Umroh dalam bahasa Arab berarti ziyarah, yaitu melaksanakan ziyarah ke Baitullah untuk melaksanakan serangkaian ibadah yang diajarkan tuntunannya oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam. Jika saja umroh yang dilakukan berulang kali akan melebur dosa yang dilakukan diantara kedua umroh maka umroh yang dikerjakan di bulan Ramadhan pahalanya dinilai sama dengan berhaji. Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">فَعُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Umrah di bulan Ramadhan sama dengan ibadah haji</em><em> atau haji bersamaku</em><em>.&#8221;</em><em> </em><strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>     </strong>Maka bagi anda yang memiliki kemampuan, mari meraih pahala haji bersama Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dengan cara berumroh di bulan Ramadhan. Tentu saja hal yang ironi jika seorang muslim yang mampu dan telah berkali-kali mengadakan ziyarah dan wisata di berbagai negeri lalu tidak menyempatkan dirinya berkunjung ke tanah suci yang dengan mengunjunginya dia akan mendapatkan berbagai pahala dan sebagai pelebur dosa-dosanya. Namun perlu dicermati bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam tidak membatasi pelaksanaannya pada sepuluh hari terakhir bulan tersebut, walaupun tentu saja hal itu lebih afdhal, Wallohu A’lam</p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>7.              </strong><strong>Menghidupkan Malam <em>Lailatul Qadar</em></strong><a title="" href="#_ftn3"><strong><em>(3)</em></strong></a><strong> </strong><strong>                                                                                                                                            </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>       Lailatul qadar</em> dalam bahasa Arab bermakna malam kemuliaan Firman Allah Azza wa Jalla:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. </em><strong>(QS.al-Qadar :3)</strong><em></em></p>
<p style="text-align:justify;">Seribu bulan itu sama dengan 83 tahun 4 bulan, hal itu berarti seorang yang mendapatkannya lalu beribadah padanya seakan-akan umurnya telah bertambah sebanyak 83 tahun 4 bulan yang kesemuanya diisi dengan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kapan sebenarnya lailatul qadar dan dari sekian banyak pendapat yang ada maka pendapat yang terkuat bahwa ia terjadi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, terlebih lagi pada malam-malam ganjil, yaitu malam 21, 23,25,27, dan 29.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam itu adalah pelebur dosa-dosa di masa lalu, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدَرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Dan barangsiapa yang beribadah pada malam &#8216;Lailatul qadar&#8217; semata-mata karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang terdahulu</em>.&#8221; <strong>(</strong><strong>HR. Bukhari</strong><strong> dan Muslim)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">          Menghidupkan Lailatul qadar adalah dengan memperbanyak ibadah-badah berupa shalat malam, membaca al-Qur`an, zikir, membaca shalawat dan berdoa. Aisyah radhiyallohu anha ketika menggambarkan mujahadah Rasulullah shallallohu alaihi wasallam di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Jika sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan telah masuk maka beliau mengencangkan kain sarungnya (tidak menggauli lagi istri-istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan anggota keluarganya</em>” <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jika seseorang mendapatkan karunia bertemu dengan lailatul qadar dianjurkan membaca doa ini :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">اَللّهُمّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فاَعْفُ عَنِّي</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pe</em><em>maaf</em><em>,  suka me</em><em>maafkan</em><em>, </em><em>maka maafkanlah</em><em> aku</em>.&#8221; <strong>(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah serta dishahihkan oleh Albani)</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>8.              </strong><strong>I&#8217;tikaf di </strong><strong>sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan</strong><a title="" href="#_ftn4"><strong>(4)</strong></a><strong> </strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">     I&#8217;tikaf dalam bahasa Arab berarti berdiam diri atau menahan diri pada suatu tempat, untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu. Sedang dalam istilah syar&#8217;i, i&#8217;tikaf berarti berdiam di masjid untuk beribadah kepada Allah dengan sifat dan cara tertentu sesuai yang telah diatur oleh syari&#8217;at.</p>
<p style="text-align:justify;">I&#8217;tikaf merupakan salah satu sunnah yang telah ditinggalkan oleh kebanyakan ummat Islam padahal ibadah ini tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam walaupun sekali hingga wafat beliau, seperti yang diceritakan oleh Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Sesungguhnya Nabi shallallohu alaihi wasallam selalu i&#8217;tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau meninggal dunia, kemudian istri-istri beliau beri&#8217;tikaf sesudah beliau</em>.&#8221; <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">       Tabi’in yang mulia Al Imam Ibnu Syihab Az Zuhri berkata, “<em>Sangat mengherankan keadaan kaum muslimin, mereka telah meninggalkan i’tikaf padahal Nabi </em><em>r</em><em> tidak pernah meninggalkannya sejak masuk ke kota Medinah hingga wafatnya”</em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">           Diantara keutamaan ibadah I’tikaf, dia merupakan <em>wasilah</em> (cara) yang digunakan oleh Nabi shallallohu alaihi wasallam untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar sebagaimana dituturkan oleh Abu Said Al Khudri radhiyallohu anhu,<em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Nabi shallallohu alaihi wasallam telah  beri’tikaf di sepuluh awal bulan Ramadhan, kemudian beliau beri’tikaf di sepuluh pertengahan, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya saya telah beri’tikaf sepuluh awal (bulan Ramadhan) (untuk) mencari malam Lailatul Qadar kemudian saya beri’tikaf di sepuluh pertengahan (Ramadhan) kemudian saya didatangi (malaikat) lalu dikatakan kepadaku: Sesungguhnya malam Lailatul Qadr itu di sepuluh akhir (bulan Ramadhan), karenanya siapa di antara kalian yang mau beri’tikaf, maka hendaknya dia beri’tikaf! Maka beri’tikaflah manusia (para sahabat) beserta beliau …”</em> <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>        </strong>Maka bagi kita yang merindukan malam seribu bulan mari mendekat ke rumah-rumah Allah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, tuntaskan segala kesibukan dan urusan duniawi anda sebelum malam-malam mulia tersebut karena uswah hasanah kita telah mencontohkan dengan pelbagai kesibukan yang beliau miliki namun dalam setiap tahunnya beliau ‘cuti’ selama sepuluh hari untuk konsentrasi bertaqarrub dan bermunajat kepada Rabbnya. Seharusnya paling tidak setiap kita pernah merasakan bagaimana keindahan i’tikaf walaupun  hanya sekali dari umur yang Allah berikan kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">          Demikianlah beberapa ibadah penting yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan dan telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam. Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang mendapat taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengamalkannya agar kita benar-benar mendapatkan kebaikan dan keberkahan bulan Ramadhan dan bukan menjadi orang yang merugi dan celaka dengan kedatangan bulan yang mulia ini. Cukuplah hadits ini sebagai renungan bagi kita semua:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>« رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ »</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Celakalah seseorang yang namaku disebut di sisinya lalu dia tidak bershalawat kepadaku,celakalah seseorang yang datang kepadanya bulan Ramadhan lalu berlalu sebelum dia diampunkan dan celakalah seseorang kedua orang tuanya telah mencapai usia renta di sisinya namun tidak memasukkannya ke surga” </em><strong>(HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu dan dishohihkan Albani)</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Wallohu</em></strong><strong><em>l Musta’an wahuwa</em></strong><strong><em> Waliyyut Taufiq</em></strong><strong></strong></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">(1)</a>  Lihat kembali tulisan kami “<em>Menghidupkan Malam Ramadhan Dengan Shalat Tarawih”</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">(2)</a>  Baca “Tashiih Ad Du’a (hal 505-507) karya Al Allamah DR. Bakar bin Abdullah Abu Zaid rahimahulloh</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">(3)</a>  Baca tulisan kami, “Menguak Tabir Lailatul Qadr”</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">(4)</a>  Baca tulisan kami, “Menggapai Lailatul Qadr Dengan Beri’tikaf”</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/markazassunnah.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/markazassunnah.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/markazassunnah.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/markazassunnah.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/markazassunnah.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/markazassunnah.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/markazassunnah.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/markazassunnah.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/markazassunnah.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/markazassunnah.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/markazassunnah.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/markazassunnah.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/markazassunnah.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/markazassunnah.wordpress.com/337/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=337&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/08/05/bulan-ramadhan-antara-pahala-dan-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d01f3ca430c180837cffa37105eace3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">markazassunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU SEPUTAR BULAN SYA’BAN(1)</title>
		<link>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/08/05/hadits-hadits-lemah-dan-palsu-seputar-bulan-sya%e2%80%99ban1/</link>
		<comments>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/08/05/hadits-hadits-lemah-dan-palsu-seputar-bulan-sya%e2%80%99ban1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 23:24:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>markazassunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits-Hadits Lemah Dan Palsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazassunnah.wordpress.com/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah masyarakat kita beredar banyak hadits-hadits lemah dan palsu seputar keutamaan ibadah pada bulan Sya’ban. Hadits-hadits tersebut menyebar lewat berbagai cara. Mulai dari ceramah para khathib, tulisan di buku, majalah, situs, blog, jejaring sosial, hingga sms. Berikut ini kami tuliskan contoh kecil dari sebagian hadits lemah dan palsu tersebut  agar diketahui bersama oleh kaum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=335&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Di tengah masyarakat kita beredar banyak hadits-hadits lemah dan palsu seputar keutamaan ibadah pada bulan Sya’ban. Hadits-hadits tersebut menyebar lewat berbagai cara. Mulai dari ceramah para khathib, tulisan di buku, majalah, situs, blog, jejaring sosial, hingga sms. Berikut ini kami tuliskan contoh kecil dari sebagian hadits lemah dan palsu tersebut  agar diketahui bersama oleh kaum muslimin.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits-hadits tentang puasa sunah di bulan Sya’ban</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits pertama</strong></p>
<p style="text-align:right;"> <strong>عن عائشة رضي الله عنها عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : [ شعبان شهري ورمضان شهر الله وشعبان المطهر ورمضان المكفر]</strong> .</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Aisyah radhiyallohu anha dari Rasulullah <em>shallallohu alaihi wasallam</em> bersabda<em>, “Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan Allah. Sya’ban adalah (bulan) yang mensucikan dan Ramadhan adalah bulan yang menghapuskan (dosa-dosa).”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan :</strong> Ini adalah hadits palsu. Imam Al-‘Ajluni berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Dailami dari Aisyah secara marfu’. Ibnu Al-Ghars berkata: Guru kami berkata hadits ini dha’if. (lihat: Kasyful Khafa’ wa Muzilul Ilbas, juz 2 hlm. 13 no. 1551).</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Al-Munawi berkata dalam Faidhul Qadir Syarh Jami’ Shaghir : “Di dalam sanadnya ada Hasan bin Yahya Al-Khusyani. Imam Adz-Dzahabi berkata: Imam Ad-Daraquthni mengatakan ia perawi yang matruk (ditinggalkan haditsnya). Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani melemahkannya dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 3402.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq dan Ad-Dailami dari Aisyah secara marfu’ dengan lafal: <em>”Bulan Ramadhan adalah bulan Allah dan bulan Sya’ban adalah bulanku. Sya’ban adalah (bulan) yang mensucikan dan Ramadhan adalah (bulan) yang menghapuskan (dosa-dosa).</em>” Sanadnya sangat lemah sebagaimana dijelaskan oleh syaikh Al-Albani dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 34119.<span id="more-335"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits kedua</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>وروي عن أنس رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : </strong><strong>[ </strong><strong>رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي ]</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Anas radhiyallohu anhu dari Rasulullah <em>shallallohu alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan:</strong> Ini adalah hadits palsu. Imam Al-‘Ajluni berkata: “Diriwayatkan oleh Ad-Dailami dan lainnya dari Anas secara marfu’. Namun Imam Ibnu Jauzi menyebutkannya dalam kitab Al-Maudhu’uat (hadits-hadits palsu), demikian pula Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam bukunya Tabyinul ‘Ajab fi maa Warada fi Rajab.” (lihat: Kasyful Khafa’ juz 2 hlm. 510 no. 1358).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits ketiga</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>وسئل النبي صلى الله عليه وسلم:  أي الصوم أفضل بعد رمضان؟ قال : [شعبان لتعظيم رمضان], قال: في أي الصدقة أفضل ؟ قال : [ صدقة في رمضان ]</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Nabi shallallohu alaihi wasallam ditanya tentang puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, maka beliau shallallohu alaihi wasallam menjawab, <em>“(Puasa) Sya’ban karena untuk mengagungkan (puasa) Ramadhan.”</em> Beliau shallallohu alaihi wasallam juga ditanya tentang sedekah yang paling utama, maka beliau shallallohu alaihi wasallam menjawab, “<em>Sedekah di bulan Ramadhan</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan:</strong> Dinyatakan lemah oleh syaikh Al-Albani dalam Dha’if At-Targhib wat Tarhib no. 618.</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>وفي رواية : عن أنس مرفوعاً : </strong><strong>] </strong><strong> أفضل الصيام بعد رمضان شعبان ]</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam riwayat lain dari Anas secara marfu’ dengan lafal: ”<em>Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa Sya’ban.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan:</strong> Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari juz 4 hlm. 152-154 mengatakan: “Sanadnya dha’if.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits keempat</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>عن أنس رضي الله عنه : [ إنما سمي شعبان لأنه يتشعب فيه خير كثير للصائم فيه حتى يدخل الجنة ]</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan dari Anas berkata:”<em>Bulan ini disebut Sya’ban karena di dalamnya kebaikan bercabang demikian banyak bagi orang yang berpuasa sunnah sehingga ia masuk surga.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan: </strong>Ini adalah hadits palsu. Diriwayatkan oleh Ar-Rafi’i dalam Tarikhnya dengan lafal di atas dan Abu Syaikh dengan lafal: “<em>Tahukah kalian kenapa bulan ini disebut Sya’ban</em>?…” Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini palsu dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 2061.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits kelima</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong> وعن أنس بن مالك قال قال النبي صلى الله عليه وسلم  : [ خيرة الله من الشهور شهر رجب وهو شهر الله من عظم شهر رجب فقد عظم أمر الله ومن عظم أمر الله أدخله جنات النعيم وأوجب له ، وشعبان شهري فمن عظم شعبان فقد عظم أمري ومن عظم أمري كنت له فرطا وذخرا يوم القيامة ، وشهر رمضان شهر أمتي فمن عظم شهر رمضان وعظم حرمته ولم ينتهكه وصام نهاره وقام ليله وحفظ جوارحه خرج من رمضان وليس عليه ذنب يطلبه الله به ] . </strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu berkata: Nabi <em>shallallohu alaihi wasallam</em> bersabda: ”<em>Bulan Allah yang paling baik adalah bulan Rajab karena ia adalah bulan Allah. Barangsiapa mengagungkan bulan Rajab berarti ia telah mengagungkan perkara Allah.Dan barangsiapa mengagungkan perkara Allah maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang penuh kenikmatan dan hal itu pasti baginya. Sya’ban adalah bulanku, maka barangsiapa mengagungkan bulanku berarti telah mengagungkan perkaraku. Dan barangsiapa mengagungkan perkaraku maka aku menjadi pendahulu dan simpanan pahala baginya pada hari kiamat. Adapun bulan Ramadhan adalah bulan umatku. Barangsiapa mengagungkan bulan Ramadhan, memuliakan kehormatannya tanpa melanggarnya, berpuasa di siang harinya, shalat (tahajud dan witir) pada malam harinya dan menjaga anggota badannya (dari perbuatan dosa) maka ia keluar dari bulan Ramadhan tanpa memiliki sedikit pun dosa yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan:</strong> Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman juz 3 hlm. 374 no. 3813. Imam Baihaqi berkata: Sanad hadits ini sangat mungkar (lemah sekali). Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Bahkan hadits ini palsu”. Syaikh Al Albani menuturkan, “Dalam sanad hadits ini terdapat tiga perowi yang lemah: “Yazid Ar Raqqasyi, Zaid Al ‘Ammi dan Nuh bin Abi Maryam, orang yang terakhir ini paling lemah bahkan dia pendusta, pembuat hadits palsu yang terkenal..” (Silsilah Adh Dho’ifah, no 6188)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits keenam</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>عن أنس : “أفضل الصوم بعد رمضان شعبان لتعظيم رمضان وأفضل الصدقة صدقة في رمضان.”</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Anas berkata: “<em>Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa Sya’ban untuk memuliakan Ramadhan dan sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Al-Munawi berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia menganggapnya hadits gharib, dan juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi. Keduanya meriwayatkan dari jalur Shadaqah bin Musa dari Tsabit dari Anas. Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Adh Dhu’afa mengatakan: Para ulama menyatakan Shadaqah (bin Musa) adalah perawi yang lemah.” Syaikh Al-Albani juga melemahkannya dalam Dha’if Jamii’ Shaghir no. 1023.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits-hadits Lemah dan Palsu tentang Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diantaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits pertama</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah <em>shallallohu alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>[ أتاني جبريل عليه السلام فقال هذه ليلة النصف من شعبان , ولله فيها عتقاء من نار بعدد شعور غنم بني كلب لا ينظر الله فيها إلى مشرك ولا إلى مشاحن ولا إلى قاطع رحم ولا إلى مسبل ولا إلى عاق لوالديه ولا إلى مدمن خمر ] . </strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Nabi <em>shallallohu alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Malaikat Jibril mendatangiku dan berkata: Ini adalah malam nishfu (pertengahan) Sya’ban, pada malam ini Allah membebaskan dari neraka (manusia) sejumlah bulu kambing suku Kalb. Pada malam ini pula Allah tidak mau melihat kepada orang musyrik, orang yang bermusuhan (dengan sesama muslim), orang yang memutuskan tali kekerabatan, orang yang memanjangkan kainnya melebihi mata kaki, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan pecandu minuman keras.</em>”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan:</strong> Hadits ini lemah sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam riwayat lain dengan lafal sbb:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>عن عائشة : “إذا كان ليلة النصف من شعبان يغفر الله من الذنوب أكثر من عدد شعر غنم كلب”</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadits dari Aisyah dengan lafal: <em>Jika malam nishfu (pertengahan) Sya’ban maka Allah mengampuni dosa-dosa lebih banyak dari jumlah bulu kambing suku Kalb (sebuah suku Arab ‘Aribah di negeri Syam)</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan:</strong> Syaikh Al-Albani menyatakan sanadnya lemah dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 654.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam riwayat yang lain dengan lafal:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>إن الله تعالى ينـزل ليلة النصف من شعبان إلى سماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala turun pada malam nishfu Sya’ban ke langit dunia maka Allah mengampuni (hamba-Nya) lebih banyak dari jumlah bulu kambing suku Kalb.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan:</strong> Ini adalah hadits palsu.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi dalam kitab shaum, juga Al-Baihaqi dalam kitab ash-shalat dari jalur Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah dari Aisyah. Imam Tirmidzi berkata: Hadits ini tidak dikenal kecuali dari jalur Hajjaj. Aku telah mendengar imam Muhammad (bin Ismail) yaitu imam Al-Bukhari melemahkan hadits ini  dengan mengatakan: Yahya tidak mendengar hadits ini dari Urwah dan Hajjaj tidak mendengarnya dari Yahya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang sama sehingga nilainya juga hadits palsu.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ad-Daraquthni berkata: Sanadnya mudhtarib (goncang) tidak shahih. Imam Al-‘Iraqi berkata: Imam Al-Bukhari melemahkan hadits ini karena sanadnya terputus pada dua tempat dan ia menyatakan tidak ada satu pun sanad hadits ini yang shahih. Imam Ibnu Dihyah berkata: Tidak ada satu pun hadits tentang malam nishfu Sya’ban yang shahih dan tidak ada seorang pun perawi yang jujur meriwayatkan hadits tentang shalat sunah (malam nishfu Sya’ban). Hal itu hanya diada-adakan oleh orang yang mempermainkan syariat nabi Muhammad <em>shallallohu alaihi wasallam</em> dan senang memakai pakaian Majusi.” (Dha’if Jami’ Shaghir no. 1761). Hadits ini dinilai dhoif oleh Ibnu Mubarak karena bertentangan dengan hadits shohih mutawatir yang menegaskan bahwa Allah Azza wa Jalla turun setiap malamnya ke langit dunia</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits kedua</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>عن أبي أمامة مرفوعا: [ خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة : أول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان وليلة الجمعة و ليلة الفطر وليلة النحر]. </strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Umamah bahwasanya Rasulullah <em>shallallohu alaihi wasallam</em> bersabda: Lima malam yang pada saat tersebut doa tidak akan ditolak oleh Allah; malam pertama bulan Rajab, malam nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam idul Fitri, dan malam idul Adha.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan:</strong> Ini adalah hadits palsu.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir menulis: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dan Ad-Dailami dari jalur Abu Umamah. Juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Ibnu Nashir, dan Al-‘Askari dari jalur Ibnu Umar. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: Semua jalur hadits ini cacat.”Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini palsu dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 2852.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits ketiga</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>عن علي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : [ إذا كانت ليلة نصف شعبان فقوموا ليلها ،وصوموا يومها ؛فإن الله تبارك وتعالى ينـزل فيها لغروب الشمس إلى السماء الدنيا فيقول : ألا من مستغفرٍ فأغفر له ؟ ألا من مسترزقٍ فأرزقه ؟ ألا من مبتلى فأعافيه ؟ ألا سائل فأعطيه  ؟  ألا كذا ألا كذا ؟حتى يطلع الفجر ].</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda: <em>Jika malam nishfu Sya’ban maka hendaklah kalian shalat malam dan berpuasa di siang harinya karena sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala turun ke langit dunia pada malam itu sejak matahari tenggelam. Allah berfirman: Adakah orang yang meminta ampunan sehingga Aku pasti mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki sehingga Aku pasti memberinya rizki? Adakah orang yang terkena musibah sehingga Aku pasti menyembuhkannya? Adakah orang yang meminta sehingga Aku pasti akan memberinya? Adakah orang yang begini? Adakah orang yang begitu? Demikianlah sampai terbit fajar</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan:</strong> Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Ini adalah hadits palsu.</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Hafizh Al-Bushiri dalam Misbahuz Zujajah fi Zawaid Ibni Majah menulis: Sanadnya lemah karena kelemahan Ibnu Abi Sabrah, nama lengkapnya adalah Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Abi Sabrah.Imam Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma’in berkata: Ia adalah seorang pemalsu hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini palsu dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 652 dan Dha’if Targhib wat Tarhib no. 623.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits Keempat</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>“في ليلة النصف من شعبان يوحي الله إلى ملك الموت يقبض كل نفس يريد قبضها في تلك السنة”  ..</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Pada malam nishfu Sya’ban, Allah mewahyukan kepada malaikat maut untuk mencabut nyawa setiap jiwa yang hendak dicabutnya pada tahun tersebut</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan:</strong> Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Dainuri dalam Al-Mujalasah dengan sanad dha’if, karena sanadnya terputus, yaitu perawi Rasyid bin Sa’ad meriwayatkan secara mursal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dinyatakan lemah oleh syaikh Al-Albani dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 4019 dan Dha’if Targhib wat Tarhib no. 620.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits kelima</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>وفي رواية عن أبي موسى: “إن الله تعالى ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن” .</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwasanya Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda: “<em>Sesungguhnya Allah memeriksa hamba-hamba-Nya pada malam nishfu Sya’’ban maka Allah mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan:</strong> Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad sangat lemah. Al-Hafizh Al-Bushiri berkata dalam Misbahuz Zujajah fi Zawaid Ibni Majah: Sanadnya lemah karena kelemahan perawi Abdullah bin Lahi’ah dan tadlis perawi Walid bin Muslim. Imam Al-Mundziri juga menyebutkan kelemahan lain, yaitu perawi Dhahak bin Abdurrahman bin ‘Arzab tidak bertemu dengan Abu Musa Al-‘Asy’ari. (Sunan Ibnu Majah juz 2 hlm. 86 – cet. Dar Ibni Haitsam)</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah memuliakan kita dengan amalan-amalan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, dan menjauhkan kita dari hal-hal baru dalam dien ini atau lebih dikenal sebagai bid’ah. Semoga Allah membukakan mata dan hati kita dengan menerima kebenaran dan al haq tanpa ragu untuk meninggalkan kebatilan dan kerancuan, Insya Alah, Allahumma Amien.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div style="text-align:justify;"></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">(1)</a> Dikutip dari tulisan <em>Muhib Al Majdi /</em>sumber: www. <em>Arrahmah.com</em>, dengan beberapa perubahan</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/markazassunnah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/markazassunnah.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/markazassunnah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/markazassunnah.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/markazassunnah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/markazassunnah.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/markazassunnah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/markazassunnah.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/markazassunnah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/markazassunnah.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/markazassunnah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/markazassunnah.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/markazassunnah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/markazassunnah.wordpress.com/335/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=335&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/08/05/hadits-hadits-lemah-dan-palsu-seputar-bulan-sya%e2%80%99ban1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d01f3ca430c180837cffa37105eace3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">markazassunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TARIKH PENULISAN ‘ULUMUL HADITS (Bagian Kedua)</title>
		<link>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/07/18/tarikh-penulisan-%e2%80%98ulumul-hadits-bagian-kedua/</link>
		<comments>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/07/18/tarikh-penulisan-%e2%80%98ulumul-hadits-bagian-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 13:27:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>markazassunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tadwin as-sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazassunnah.wordpress.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[TARIKH PENULISAN ‘ULUMUL HADITS[1] Bagian Kedua Oleh: Abu Shafa Luqmanul Hakim Bab Kedua: Sejarah Ringkas Perkembangan ‘Ulumul Hadits Pasal Pertama: Abad Pertama – Abad Ketiga             Pada zaman sahabat dan kibarut tabi’in hadits-hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- belum ditadwin[2] [dibukukan], namun hadits-hadits tersebut terjaga di dalam dada para ulama kita dan tersebar lewat shahifah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=332&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">TARIKH PENULISAN ‘ULUMUL HADITS<a title="" href="#_ftn1"><strong><span style="text-decoration:underline;">[1]</span></strong></a></span></strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong>Bagian Kedua</strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong>Oleh: Abu Shafa Luqmanul Hakim</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bab Kedua: Sejarah Ringkas Perkembangan ‘Ulumul Hadits</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pasal Pertama: Abad Pertama – Abad Ketiga</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>            </strong>Pada zaman sahabat dan <em>kibarut</em> tabi’in hadits-hadits Rasulullah <em>–shallallahu ‘alaihi wa sallam-</em> belum ditadwin<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> [dibukukan], namun hadits-hadits tersebut terjaga di dalam dada para ulama kita dan tersebar lewat shahifah [lembaran] yang ditulis oleh mereka, adapun shahifah yang termasyhur pada masa itu adalah <em>shahifah as-shaadiqah</em> yang ditulis oleh Abdullah bin Amr bin ‘Ash <em>–radhiyallahu ‘anhu-</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">            Pada awal islam, Rasulullah melarang para sahabatnya untuk menulis hadits-hadits dari beliau, sebagaimana sabda beliau:</p>
<p style="text-align:right;" align="right">لا تكتبوا عنّي غير القرآن ومن كتب عنّي غير القرآن فليمحوه</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>Janganlah kalian mencatat sesuatu dariku kecuali al-qur’an, barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain al-qur’an, maka hendaknya dia menghapusnya</em>.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Namun larangan hanya bersifat temporer dan tidak permanen, hal ini disebabkan dua hal pokok berikut ini:<span id="more-332"></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kuatnya kemampuan kabilah arab dalam menghafal, pasalnya mayoritas dari mereka  buta huruf [tidak bisa membaca dan menulis]<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>, maka mereka cenderung mengandalkan daya ingat dalam berinteraksi.</li>
<li>Kekhawatiran Rasulullah <em>–shallallahu ‘alaihi wasallam-</em> akan bercampurnya al-qur’an dan hadits sehingga sulit untuk dibedakan<a title="" href="#_ftn5">[5]</a>, dan larangan ini tidak berlaku bagi sahabat yang mampu membedakan antara keduanya, misalnya dengan memisahkan antara catatan yang berisi ayat-ayat al-qur’an dan catatan yang memuat hadits-hadits Nabi.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dan menguatkan pendapat diatas, datangnya riwayat-riwayat yang valid dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihin wasallam- yang dhahirnya memberi ijin para sahabat untuk mencatat hadits-hadits beliau, diantara riwayat tersebut adalah:</p>
<p style="text-align:right;" align="right">     قيدوا العلم بالكتابة</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya:<em> Ikatlah ilmu dengan tulisan</em>.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan sabda Nabi yang lain:</p>
<p style="text-align:right;" align="right">اكتبوا لأبي شاه</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>Tolong tuliskan [khutbahku] untuk Abu Syah</em>.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian sabda Rasulullah kepada Abdullah bin Amr bin Ash:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">اكتب فوالذي نفسي بيده ما خرج من في إلا الحق</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya:<em> Silahkan menulis, demi Dzat yang jiwaku berada ditangannya [Allah], tidaklah keluar dari lisanku kecuali kebenaran.</em></p>
<p style="text-align:justify;">            Inilah cikal bakal <strong>Ilmul Hadits Riwayah </strong>pada masa Rasulullah <em>–shallallahu ‘alaihi wasallam-</em>, yang mana riwayat hadits pada masa tersebut cenderung untuk bersandar kepada hafalan, kendati telah valid riwayat dari zaman tersebut bahwa para sahabat Rasulullah mencatat hadits-hadits yang mereka simak dari beliau, bahkan telah valid pula riwayat dari beliau yang menganjurkan para sahabat untuk mencatat hadits-hadits dari beliau sebagaimana kami paparkan diatas.</p>
<p style="text-align:justify;">            Adapun <strong>Ilmul Hadits Dirayah </strong>[ilmu mushthahul hadits], maka pada zaman tersebut belumlah ditulis buku khusus tentangnya, namun benih-benih disiplin ilmu tersebut telah merebak di kalangan sahabat. Memang, dari sisi penamaan, ilmu tersebut belumlah dikenal di kalangan mereka, namun proses amaliyahnya [praktek] telah masyhur di kalangan mereka, misalnya: kehati-hatian mereka dalam menerima riwayat, klarifikasi terhadap hadits yang diriwayatkan, fenomena al-Jarh [celaan] wat ta’dil [pujian] khususnya kepada ahli bid’ah dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">            Sebagai bukti dari penjabaran diatas, maka akan kami nukilkan dalam artikel ini beberapa riwayat dari para sahabat yang mendeskripsikan realita di zaman mereka dalam mempraktekkan poin-poin yang kami jelaskan diatas. Adalah Abu Bakar as-Shiddiq <em>–radhiyallahu ‘anhu-</em> yang pertama kali menanamkan sifat kehatian-hatian dalam menerima hadits dari Rasulullah <em>–shallallahu ‘alaihi wasallam-</em>, beliau adalah salah satu peletak batu pertama dalam bangunan ilmu yang mulia ini, dari Qabishah bin Duaib <em>–radhiyallahu ‘anhu-</em>, beliau berkata:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">جاءت الجدّة إلي أبي بكر فسأله ميرثها, فقال: ما لك في كتاب الله من شيئ, و ما علمت لك في سنة رسول الله شيئا, فارجعي حتى أسأل الناس. فسأل الناس, فقال المغيرة بن شعبة:&#8221;حضر رسول الله صلي الله عليه وسلم أعطاها السدس, فقال هل معك غيرك؟ فقام محمد بن مسلمة الأنصاري فقال مثل ما قال المغيرة, فأنفذه لها رسول الله صلي الله عليه وسلم.</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Seorang nenek datang menghadap Abu Bakar as-shiddiq menanyakan tentang bagiannya dalam warisan, maka beliau mengatakan:”Aku tidak mendapatkan ayat yang menjelaskan tentang bagianmu [dalam warisan], dan aku juga tidak mengetahui hadits dari Rasulullah yang menjelaskan tentang bagianmu [dalam warisan], maka pulanglah dulu, dan aku akan bertanya kepada manusia [sahabat-sahabat Rasulullah] tentang masalah ini. Maka beliaupun bertanya kepada sahabat yang lain dalam masalah tersebut, seorang sahabat yang bernama al-Mughirah bin Syu’bah mengatakan:”aku melihat Rasulullah memberi seorang nenek seperenam bagian dalam warisan, kemudian Abu Bakar mengatakan:”adakah saksi yang mendukung pernyataanmu?, maka berdirilah Muhammad bin Maslamah al-Anshari dan memberikan kesaksian atas kebenaran pernyataan al-Mughirah bin Syu’bah, maka Abu Bakar menerima hadits tersebut dan memberikan seperenam untuk nenek.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">            Bahkan lebih baik dari riwayat diatas, firman Allah <em>–azza wa jalla-</em> dalam surat al-Hujurat ayat 6, yang menjelaskan tentang manhaj klarifikasi dalam menerima berita, Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">ياآيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنباء فتبيّنوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبح علي ما فعلتم نادمين</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya:Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum, yang kemudian kamu menyesali perbuatan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Diantara bukti lain yang menunjukkan kegigihan para sahabat dalam menjaga sunnah Rasulullah <em>–shallallahu ‘alaihi wasallam- </em>adalah yang dinampakkan Umar bin al-Khatthab<em> –radhiyallahu ‘anhu’- </em>ketika Abu Musa <em>–radhiyallahu ‘anhu-</em> berkunjung ke rumah beliau dan memohon ijin untuk bertamu, namun setelah beliau bersalam tiga kali dan nampaknya tidak ada isyarat bahwa Umar mengijinkannya masuk, maka beliau-pun pulang, setelah Umar menyadari bahwa Abu Musa pulang dari rumahnya, maka dia mengirim utusan untuk memanggilnya, ketika menghadap maka Umar menanyakan kepulangan dari rumahnya, maka Abu Musa menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"> إني استأذنت ثلاثا فلم يؤذن لي فرجعت, فإني سمعت رسول الله يقول: إذا استأذن أحدكم ثلاثا فلم يؤذن له فلينصرف</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Sesungguhnya aku meminta ijin –untuk bertamu- tiga kali namun tidak diberi ijin maka akupun pulang, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda:”jika salah seorang diantara kalian meminta ijin tiga kali kemudian tidak diijinkan maka hendaknya dia kembali”.</p>
<p style="text-align:justify;">            Maka Umar bin Khatthab mengatakan:”Demi Allah, hendaknya kamu mendatangkan saksi atas hadits tersebut, sebab jika tidak, maka aku akan memukulmu”, maka Abu Musapun berupaya mencari saksi tentang hadits tersebut, kemudian beliau menuju ke kaum anshar dan mengisahkan peristiwa yang terjadi, maka berdirilah Abu Sa’id al-Khudri menguatkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa.<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;">            Dan perhatikan pula sikap Abdullah bin Abbas <em>–radhiyallahu ‘anhuma-</em> ketika datang kepada beliau Busyair al-Adawi meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah, namun beliau cenderung untuk tidak menyimak hadits tersebut, ketika Busyair al-Adawi menanyakan penyebab sikap tersebut, maka beliau berkata:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">إِنَّا كُنَّا مَرَّةً إِذَا سَمِعْنَا رَجُلاً يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ابْتَدَرَتْهُ أَبْصَارُنَا وَأَصْغَيْنَا إِلَيْهِ بِآذَانِنَا فَلَمَّا رَكِبَ النَّاسُ الصَّعْبَ وَالذَّلُولَ لَمْ نَأْخُذْ مِنَ النَّاسِ إِلاَّ مَا نَعْرِفُ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Sesungguhnya kami dahulu jika mendengar seseorang membacakan hadits dari Rasulullah maka mata kami berlinang air mata, dan kami menyimaknya dengan sungguh-sungguh, namun ketika manusia sudah banyak berdusta maka kami tidak mendengarkan kecuali dari orang yang kami kenal.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align:justify;">            Beberapa contoh riwayat diatas merupakan hikayat sejarah tentang upaya konkrit para ulama dari kalangan sahabat dalam menjaga kemurnian hadits-hadits Rasulullah, riwayat diatas mengabarkan bahwa proses amaliyah [praktek] pembentengan kepada hadits Rasulullah telah ditanamkan sejak dini di tubuh umat ini, dan kumpulan riwayat diatas merupakan cikal bakal dari Ilmu Mushtlahul Hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">            Zaman sahabatpun berlalu, namun nilai-nilai tentang menjaga hadits Rasulullah terhunjam di dalam dada generasi setelahnya. ya, nilai-nilai tersebut telah tertanam dan terhunjam di dalam kalbu mereka, bahkan mungkin lebih dari yang terbayangkan. Demi merealisasikan nilai-nilai tersebut, Rihlah [safar] dalam rangka menuntut ilmu haditspun digalakkan, tahukah anda buah manis dari rihlah yang penuh berkah ini?, rihlah ini membuka peluang berjumpanya para perawi hadits [ulama yang meriwayatkan hadits] sehingga mempermudah proses mudzakarah [evaluasi ilmu] dan terciptanya peluang untuk mempraktekkan manhaj klarifikasi diantara mereka. Diantara buah manis dari rihlah ini adalah terciptanya jalur-jalur periwayatan baru [thuruqul hadits] bagi hadits-hadits Rasulullah, yang tentunya akan berpengaruh secara signifikan terhadap kevalidan hadits tersebut, sehingga tidak berlebihan apabila salah seorang dari mereka mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">إنّ الله حفظ هذا الدين برحلة أصحاب الحديث</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Sesungguhnya Allah menjaga agama ini dengan proses rihlah para ulama hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">            Diantara fenomena yang dilakukan para ulama pada zaman ini adalah pemberlakuan sanad dalam periwayatan hadits, dan amaliyah [praktek] ini merupakan estafet dari manhaj para sahabat dalam menjaga hadits Rasulullah sebagaimana kami jabarkan diatas, namun pada masa ini [tabi’in], para ulama lebih tegas dan ketat dalam <em>membumikan</em> manhaj ini, simaklah ucapan Tabi’in yang mulia Muhammad bin Sirin <em>–Rahimahullah-</em> [wafat tahun 110]:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">لم يكونوا يسألون عن الاسناد, فلما وقعت الفتنة قالوا لنا رجالكم, فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثهم</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Dahulu mereka tidak menanyakan sanad [dalam meriwayatkan hadits], namun setelah terjadi fitnah [fitnah wafatnya sahabat ‘Utsman bin Affan tahun 35 H], mereka mengatakan:”sebutkan sanad kalian”, maka kemudian ditelitilah sanad hadits, jika datang dari ahlis sunnah maka diterima haditsnya, dan jika datang dari ahli bid’ah maka ditolak haditsnya.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align:justify;">            Setelah fenomena ini berlalu beberapa waktu ditambah berubahnya zaman dan ahlu bid’ah semakin merajalela dalam menjajakan syubhatnya bahkan tidak segan-segan memalsukan hadits Rasulullah, serta gugurnya sebagian ulama di medan jihad sehingga jumlah mereka berkurang, maka pada awal abad kedua, muncullah khalifah Umar bin Abdil Aziz [memerintah tahun 99-101 H] menyerukan <strong>Tadwinus Sunnah<a title="" href="#_ftn12"><strong>[12]</strong></a></strong>, coba perhatikan ucapan beliau kepada penduduk negeri Madinah:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">أنظروا ما كان من حديث رسول الله فاكتبوه فإني خفت دروس العلم و ذهاب العلماء</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Perhatikanlah hadits-hadits Rasulullah lalu tulislah <strong>[tadwinus sunnah], </strong>sesungguhnya aku khawatir akan lenyapnya ilmu [hadits] dan habisnya ulama.</p>
<p style="text-align:justify;">            Maka sejak saat itu gencarlah gerakan <strong>Kodifikasi Sunnah</strong> yang diprakarsai oleh khalifah yang mulia, Umar bin Abdil Aziz, adapun pelaksananya adalah para ulama yang mumpuni di bawah komando seorang Ulama mulia Muhammad bin Syihab az-Zuhri <em>-rahimahullah- </em>[wafat pada tahun 124/125 H], maka maraklah <strong>Tadwinus Sunnah</strong> pada abad ini dan <strong>Ulumul Hadits Riwayah</strong> memasuki babak baru.</p>
<p style="text-align:justify;">            Adapun <strong>Ulumul Hadits Dirayah</strong> [Musthalahul Hadits], pada zaman tersebut belumlah ditulis kitab khusus tentang ilmu ini, namun sebagian ulama telah menyemaikan benih disiplin ilmu ini di sela-sela buku mereka, diantaranya adalah al-Imam Syafi’i <em>–rahimahullah- </em>[wafat tahun 204 H] dalam <strong>kitab ar-Risalah</strong> dan <strong>al-Umm</strong>, beliau telah membangun pondasi Ilmu Mushlahul Hadits dalam buku tersebut [kendati dengan tanpa disengaja], beliau menulis bab khusus tentang <strong>Syarat Hadits Shahih dan Hujjah Atas Tegaknya Hadits Ahad, </strong>beliau mengatakan dalam bab <strong>Khabarul Wahid</strong>:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">قال لي قائل: أحدد لي أقل ما تقوم به الحجة على أهل العلم حتى يثبت عليهم خبر الخاصة؟, فقلت: خبر الواحد عن الواحد حتى ينتهي به إلى النبي أو من انتهى به إليه دونه , ولا تكون الحجة بخبر الخاصة حتى يجمع أمورا منها: أن يكون من حدث به ثقة في دينه, معروفا بالصدق في حديثه.</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Seseorang bertanya kepadaku:”berapakah jumlah minimal perawi yang bisa diterima haditsnya menurut para ulama?, maka aku menjawab:”hadits satu orang perawi dari satu orang perawi [juga] sampai kepada Rasulullah ataupun sampai kepada selain beliau [hadits mauquf atau maqthu’], dan tidak tegak hujjah bagi sebuah hadits kecuali diriwayatkan oleh perawi yang memenuhi kriteria [perawi yang diterima haditsnya], diantaranya: hendaknya sang perawi terpercaya agamanya [al-‘adlu], dan tersohor kejujurannya dalam berkata.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p style="text-align:justify;">            Dr. Muhammad Adib Shalih <em>–hafidhahullah-</em> menjelaskan bahwa al-Imam Syafi’i –dalam kitabnya- juga memaparkan tentang hukum meriwayatkan hadits dengan makna, diterimanya hadits dari <em>mudallis</em> apabila meriwayatkan secara langsung [mentashrih] dari Syaikhnya, serta menjelaskan tentang hadits <em>munqathi’ </em>dan hadits <em>mursal.</em><a title="" href="#_ftn14">[14]</a><em></em></p>
<p style="text-align:justify;">            Kemudian datang setelah beliau al-Imam Muslim –rahimahullah- [wafat tahun 261 H] menyempurnakan yang telah dibangun oleh al-Imam Syafi’i, adalah <strong>kitab Muqaddimah Shahih Muslim</strong> saksinya, beliau mengkhususkan bab tentang urgensi sanad dalam periwayatan hadits, dan riwayat tidak diterima kecuali dari rawi yang terpercaya, dan bahwa jarh [mencela] perawi yang lemah dibolehkan demi menjaga agama, dan bukan termasuk dalam ghibah yang diharamkan dalam agama.<a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Abu Dawud-pun [wafat tahun 275 H] turut berandil dalam membangun asas ilmu yang mulia ini, kitab <strong>Risalah Ila Ahli Makkah</strong> adalah buktinya, kitab kecil ini merupakan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan kepada beliau terkait kitab beliau yang lain yakni <strong>Sunan Abu Dawud</strong>, maka beliaupun menjabarkan tentang metodologi-nya dalam kitab tersebut, menjelaskan tentang perawinya dan derajat hadits yang dimuat dalam kitab beliau, kendati beliau tidak membahas Ilmu Mushthalahul Hadits dalam kitab tersebut secara specifik, namun upaya beliau merupakan saham untuk membangun pondasi Ilmu Mushthalahul Hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian datang Abu ‘Isa at-Tirmidzi <em>–rahimahullah- </em>[wafat tahun 279 H], beliau turut berandil dalam peletakan batu utama bagi ilmu ini, beliau turut meramaikan <em>munafasah</em> <em>ilmiyah</em> ini, beliau datang bukan dengan tangan hampa, namun datang dengan kitab beliau yang fenomenal, <strong>Jamiut Tirmidzi. </strong>Kitab ini diyakini oleh para ulama sebagai cikal bakal <strong>Ilmu Takhrijul Hadits, </strong>ditambah lagi datangnya beliau dengan istilah-istilah baru dalam kamus ilmu hadits, seperti hadits hasan shahih, hadits hasan gharib dan lain sebagainya, tentunya menambah khazanah perkembangan ilmu ini, dan semakin menambah andil beliau dalam bidang ini, terbitnya kitab <strong>al-‘Ilal </strong>di akhir dari kitab <strong>Jami’nya</strong>, diantara perkataan beliau dalam kitab tersebut adalah:<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">كل حديث يروى لايكون في إسناده من يتهم بالكذب ولا يكون الحديث شاذا ويروى من غير وجه نحو ذلك فهو عندنا حديث حس</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Seluruh hadits yang diriwayatkan dan sanadnya “bersih” dari rawi yang dituduh sebagai pendusta, dan haditsnya tidak Syadz [penyelisihan terhadap yang lebih shahih], dan juga memiliki jalur lain dengan derajat yang serupa, maka inilah definisi hadits hasan menurut kami.<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align:justify;">            Inilah pemaparan kami tentang sejarah Ilmu Mushthalahul Hadits pada abad pertama sampai abad ketiga. Yang kami paparkan ini hanyalah sebagian fenomena tentang ilmu tersebut pada abad ini, pada hakikatnya masih banyak andil dari para ulama lain yang belum kami dokumentasikan dalam artikel ini, seperti andil al-Imam Abdullah bin Mubarak [wafat tahun 181 H], Imam ahmad [wafat tahun 241 H], Imam Ali bin Madiini [wafat tahun 233 H], Imam Yahya bin Ma’in [wafat tahun  234 H], Imam Ishaq bin Rahuyah [wafat tahun 238 H], Imam al-Bukhari [wafat tahun 256 H] <em>–rahimahumullah jami’an-</em> dan para ulama-ulama yang lain, mereka adalah penanam benih <strong>‘Ulumul Hadits Riwayatan wa Dirayatan<a title="" href="#_ftn17"><strong>[17]</strong></a></strong> bagi generasi selanjutnya. Semoga Allah menerima amal ibadah mereka dan meninggikan derajat mereka di surga serta mengumpulkan kita bersama mereka, Amin.</p>
<p style="text-align:justify;">Berlanjut insya Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<div style="text-align:justify;"></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>. Sumber dari artikel ini adalah makalah ilmiyah yang ditulis oleh empat orang mahasantri Ma’had ar-Raayah ‘Aly Sukabumi Jawabarat, mereka adalah: Abdullah Onyo, Abdul ‘Aziz ‘Afwan, Luqman Hakim bin Muhammad, Jefri Zaki, dengan pembimbing Abu Shafa Luqmanul Hakim bin Sudahnan. Saham kami adalah menterjemahkan dan menambal hal-hal yang kami lihat kurang sempurna.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>. Perlu diketahui, bahwa ada tiga kata yang memiliki makna serupa, namun berbeda penggunaannya dalam prosesnya, yakni <strong>Kitabah, Tadwin, Tashnif. </strong>Ketiga kata tersebut mirip maknanya dalam bahasa arab, namun memiliki perbedaan yang cukup signifikan dari prosesnya. Kata <strong>kitabah </strong>bermakna menulis, penulisan di sini memiliki makna yang mutlak, yaitu mencatat hadits-hadits yang didengar dari Rasulullah di pelepah kurma atau di kulit binatang dan lain sebagainya, dan proses <strong>kitabah</strong> <strong>hadits</strong> jenis ini telah ada sejak zaman Rasulullah.</p>
<p>Adapun <strong>tadwin as-sunnah, </strong>maka bermakna proses pengumpulan hadits dan pembukuannnya dalam satu kitab. Proses ini dilakukan pada zaman khalifah Umar bin Abdil ‘Aziz [wafat tahun 101 H], yang mana beliau memerintahkan para ulama dibawah komando Ibnu Syihab az-Zuhri [wafat tahun 124/125 H] untuk mengumpulkan <em>shahifah</em> [lembaran] yang berisi hadits lalu dibukukan, proses ini disebut <strong>Tadwinus Sunnah </strong>atau <strong>Kodifikasi Sunnah.</strong></p>
<p><strong> </strong>Adapun kata <strong>Tashnif</strong>, maka ini adalah pengembangan dari proses <strong>tadwin, </strong>maknanya adalah membukukan hadits dan mengumpulkannya sesuai dengan bab-nya, misalnya Kitabuz Zuhud karya Abdullah bin Mubarak [wafat 181 H], buku ini mengumpulkan hadits-hadits tentang zuhud saja atau Shahih Bukhari karya Imam al-Bukhari [wafat 256 H], buku ini mengumpulkan hadits sesuai dengan bab-nya, misalnya kitabul iman, maka akan mengumpulkan hadits-hadits tentang iman dalam satu bab, kitabul ‘Ilmi, maka akan mengumpulkan hadits-hadits tentang ilmu dalam bab ini dan seterusnya.</p>
<p>Proses <strong>Tashnif</strong> ini mencapai puncaknya pada masa Imam empat madzhab, dan masa ditulisnya Kutubus Sittah. Hendaknya orang yang mengklaim bahwa hadits tidak ditulis kecuali pada zaman Imam empat madzhab atau pada zaman Imam Bukhari dan lain sebagainya, memahami hal ini.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>. Silahkan merujuk Shahih Muslim, Kitabuz Zuhd, Bab memeriksa hadits dan hukum mencatat ilmu, no. hadits: 7510</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>. Tuhfatul Ahwadzi, karya Muhammad bin Abdirrahman al-Mubarakfuri -rahimahullah-, muqaddimah hal. 73.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>. Silahkan merujuk kitab Miftahus Sunnah, karya Muhammad bin Abdil ‘Aziz al-Khulii, hal. 16.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>. Hadits Riwayat al-Bukhari, Kitabul Luqathah [barang yang tercecer], no. hadits: 2432.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a>. Lihat Jami’ at-Tirmidzi, bab: Tentang Warisan Nenek, hadits no.: 2101.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a>. Silahkan merujuk Shahih al-Bukhari, no. hadits: 6245, dan Shahih Muslim, no. hadits: 2153. Perlu diketahui, bahwa beredarnya riwayat-riwayat yang menunjukkan perhatian dan kehati-hatian para sahabat terhadap periwayatan hadits serta penulisannya, memunculkan tiga sikap:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Sikap ghuluw, mereka adalah kelompok yang menolak hadits apabila hanya diriwayatkan oleh satu orang [hadits ahad] kendati diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqah, silahkan merujuk artikel kami “Hadits Ahad, Hujjahkah?”.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Sikap al-jafa’ [memudah-mudahkan], mereka adalah kelompok sekuler atau liberal yang tidak memiliki upaya serius dalam mengumpulkan riwayat-riwayat tersebut secara menyeluruh serta tidak mengkajinya secara obyektif, sehingga terkadang mereka berhujjah dengan sebagian riwayat saja dan dan meninggalkan riwayat yang lain demi menyebarkan syubhat bahwa hadits-hadits tidak ditulis di zaman Rasulullah, namun ditulis puluhan bahkan ratusan tahun pasca wafatnya Rasulullah, sebab para sahabat tidak memiliki perhatian terhadap penulisan hadits serta periwayatannya, mereka juga mengatakan bahwa mata rantai sanad hanyalah buatan para ulama yang hidup pada zaman Tabi’it Tabi’in, dan bukan mata rantai sanad yang <em>natural</em> dari generasi ke generasi. Yang mengherankan, terkadang mereka berhujjah dengan riwayat-riwayat yang menunjukan keseriusan dan kegigihan para sahabat terhadap periwayatan hadits demi untuk menghujat dan mencederai kehormatan para sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits, contoh nyatanya adalah celaan mereka terhadap Abu Hurairah sang periwayat islam, duhai, seandainya mereka rela meluangkan waktu demi mengumpulkan seluruh riwayat terkait masalah ini, serta mengkajinya secara ilmiyah dan obyektif, niscaya mereka akan keluar dengan kesimpulan yang lebih akurat.</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Sikap pertengahan, ini adalah sikap para muhadditsun [pakar hadits] dan para ulama muhaqqiqun [ulama peneliti dari zaman ke zaman, mereka berupaya mengumpulkan seluruh riwayat dalam setiap masalah, kemudian mengkaji riwayat tersebut dengan penuh ikhlas, sehingga mereka bisa meninggalkan ilmu yang bermanfaat bagi umat.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> . Shahih Muslim 1/10</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a>. Silahkan merujuk Muqaddimah Shahih Muslim, hal. 15</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a>. Lihat footnote no. 2</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> . Silahkan merujuk kitab ar-Risalah karya al-Imam as-Syafi’i, hal. 369</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a>. Lamahat Fi Ushulil Hadits hal. 20. Semoga Allah memberikan kepada kami kesempatan untuk membahas jenis-jenis hadits diatas dalam artikel khusus, wallahu waliyyut taufiq.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> . Silahkan merujuk Muqaddimah Shahih Muslim, hal. 10</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a>. Lihat al-‘Ilal karya at-Tirmidzi di akhir dari kitab Jami’nya 9/457</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a>. Baca bagian pertama dari artikel ini.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/markazassunnah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/markazassunnah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/markazassunnah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/markazassunnah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/markazassunnah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/markazassunnah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/markazassunnah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/markazassunnah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/markazassunnah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/markazassunnah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/markazassunnah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/markazassunnah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/markazassunnah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/markazassunnah.wordpress.com/332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=332&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/07/18/tarikh-penulisan-%e2%80%98ulumul-hadits-bagian-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d01f3ca430c180837cffa37105eace3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">markazassunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEDUDUKAN HADITS &#8220;TAWASSUL NABI ADAM –&#8217;alaihissalam- DENGAN HAK (KEHORMATAN) NABI MUHAMMAD –shallallahu&#8217;alaihi wasallam- (Bag. Pertama)</title>
		<link>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/07/02/kedudukan-hadits-tawassul-nabi-adam-%e2%80%93alaihissalam-dengan-hak-kehormatan-nabi-muhammad-%e2%80%93shallallahualaihi-wasallam-bag-pertama/</link>
		<comments>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/07/02/kedudukan-hadits-tawassul-nabi-adam-%e2%80%93alaihissalam-dengan-hak-kehormatan-nabi-muhammad-%e2%80%93shallallahualaihi-wasallam-bag-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jul 2011 13:07:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>markazassunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dirasah Haditsiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazassunnah.wordpress.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[Disusun : Abu Shafwan Al Munawy Bismillaahiraahmaanirrahiim          Segala puji bagi Allah; Dzat yang dengan indahnya kelembutan dan agungnya kemuliaan-Nya mencurahkan nikmat Iman dan Islam kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, lalu merasukkan ke dalam hati mereka kemurnian aqidah dan teguhnya iman yang merupakan simbol kekuatan dan ke&#8217;izzahan mereka di setiap zaman dan tempat.          Semoga shalawat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=322&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Disusun : Abu Shafwan Al Munawy</strong></p>
<p style="text-align:center;">Bismillaahiraahmaanirrahiim</p>
<p style="text-align:justify;">         Segala puji bagi Allah; Dzat yang dengan indahnya kelembutan dan agungnya kemuliaan-Nya mencurahkan nikmat Iman dan Islam kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, lalu merasukkan ke dalam hati mereka kemurnian aqidah dan teguhnya iman yang merupakan simbol kekuatan dan ke&#8217;izzahan mereka di setiap zaman dan tempat.</p>
<p style="text-align:justify;">         Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan atas Nabi dan Kekasih kita Muhammad bin Abdullah,para keluarga yang suci dan segenap sahabat yang telah dipilih oleh Allah untuk menemani perjuangan dan membela Nabi-Nya.     Tema &#8220;Tawassul dengan hak atau jaah (kedudukan) nabi setelah ia wafat&#8221; adalah sebuah masalah aqidah yang populer di kalangan umat Islam.Walaupun masalah ini telah jelas keharaman dan larangannya dari dalil-dalil Al Qur&#8217;an dan Sunnah akan tetapi sebagian ulama –semoga Allah mengampuni mereka- telah tergelincir dalam masalah ini yang mana mereka membolehkan hal tersebut.Tragisnya ketergelinciran mereka ini kemudian ditaklid dan diikuti oleh pengikut-pengikut mereka secara fanatik yang kemudian mereka sebarkan kepada umat tanpa tahu menahu tentang keabsahan dan keotentikan dalil yang mereka jadikan sebagai hujjah.</p>
<p style="text-align:justify;">       Diantara dalil yang mereka jadikan sebagai hujjah dalam masalah ini adalah hadis yang diriwayatkan dan dishahihkan oleh Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak yang mengisahkan bahwa ketika Adam –alaihissalam- berbuat kesalahan di surga ia kemudian berdoa dengan bertawassul dengan kehormatan Muhammad dan bahwasanya Nabi Adam tidaklah diciptakan kecuali karena Muhammad –shallallahu&#8217;alaihi wasallam-. Oleh karena itu dalam pembahasan yang sederhana ini,penyusun mengangkat tema ini dan memusatkan pengkajian pada hadis riwayat Al Hakim tersebut agar jelas bagi kita apakah penilaian Imam Al Hakim tentang shahihnya hadis tersebut benar ataukah beliau telah khilaf dan melakukan tasaahul (memudah-mudahkan) dalam menilai shahih hadis tersebut….!? Selamat membaca….. <span id="more-322"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.Lafaz / Redaksi Hadis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Al Hakim –rahimahullah- berkata dalam Al Mustadrak :</p>
<h3 style="padding-left:30px;text-align:right;">حدثنا أبو سعيد عمرو بن محمد بن منصور العدل ثنا أبو الحسن محمد بن إسحاق بن إبراهيم الحنظلي ثنا أبو الحارث عبد الله بن مسلم الفهري ثنا إسماعيل بن مسلمة أنبأ عبد الرحمن بن زيد بن أسلم عن أبيه عن جده عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : &#8220;لما اقترف آدم الخطيئة قال يا رب أسألك بحق محمد لما غفرت لي ,فقال الله :  &#8220;يا آدم و كيف عرفت محمدا ولم أخلقه ؟ قال : يا رب لأنك لما خلقتني بيدك ونفخت في من روحك ورفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لا إله إلا الله محمد رسول الله فعلمت أنك لم تضف إلى اسمك إلا أحب الخلق إليك, فقال الله : صدقت يا آدم إنه لأحب الخلق إليَّ, ادعني بحقه فقد غفرت لك ولولا محمد ما خلقتك&#8221;.</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya : <em>&#8220;Mengabarkan kepada kami Abu Said &#8216;Amr bin Muhammad bin Manshur Al &#8216;Adl : Mengabarkan kepada kami Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al Handzhali : Mengabarkan kepada kami Abul Harits Abdullah bin Muslim Al Fihry : Mengabarkan kepada kami Ismail bin Maslamah ; Mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ayahnya dari kakeknya dari Umar bin Al Khaththab –radhiyallahu &#8216;anhu- berkata : Rasulullah –shallallahu&#8217;alaihi wasallam- bersabda : &#8220;Ketika Adam berbuat dosa , ia berdoa : &#8220;Wahai Rabbku,saya memohon padamu dengan washilah (perantaraan) hak Muhammad agar Engkau mengampuniku.&#8221; Allah berfirman : (Wahai Adam bagaimanakah engkau mengenal Muhammad padahal Aku belum menciptakannya ?),Adam menjawab : &#8220;Wahai Rabbku sebab ketika Engkau menciptakanku dengan kedua tangan-Mu dan meniupkan ruh (ciptaan)Mu kedalam jasadku,akupun menengadahkan kepalaku dan melihat di tiang-tiang Arsy-Mu tertulis (Laailaaha illallah , Muhammadan Rasulullah) , maka saya pun tahu bahwa Engkau tidaklah menyandangkan satu nama bersama nama-Mu kecuali makhluk yang paling Engkau cintai,&#8221; Maka Allah berfirman ; (Engkau benar wahai Adam,sesungguhnya ia adalah makhluk yang paling Aku cintai,maka berdoalah kepadaKu dengan berwasilah (melalui perantaraan) haknya niscaya Aku mengampunimu,dan kalau bukan karena Muhammad Aku tidak akan menciptakanmu).&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadraknya dan dari jalurnya diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Ad Dalaail kemudian melalui jalur keduanya diriwayatkan Ibnu &#8216;Asakir dalam Tarikh Dimasyq .</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2.Rawi Hadis Diatas Dari Jalur Al Hakim</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum membahas tentang shahih tidaknya hadis ini,maka perlu terlebih dahulu menguraikan satu persatu rawi-rawi yang terdapat dalam sanad hadis di atas beserta derajat mereka dalam timbangan ilmu Jarh wa Ta&#8217;dil agar jelas apakah sanad hadis ini shahih (kuat) atau dha&#8217;if (lemah).</p>
<p style="text-align:justify;">1.Abu Said &#8216;Amr bin Muhammad bin Manshur Al &#8216;Adl</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau adalah salah seorang Muhaddis (Ahli Hadis) Naisabur,dan merupakan guru Imam Al Hakim dan murid Imam Ibnu Khuzaimah. Ia wafat tahun 343 H.</p>
<p style="text-align:justify;">2.Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al Handzhali (Tsiqah)</p>
<p style="text-align:justify;">Biografi beliau dinukil oleh Imam Adz Dzahaby dalam &#8220;Siyar A&#8217;lam&#8221; dan berkata : &#8220;Muhammad bin Ishaq bin Rahawaih Al Handzhali seorang Imam,ulama,faqih,hafidz,dan Qadhi (Hakim) Naisabur,kuniyahnya Abul Hasan,beliau mengambil hadis dari ayahnya Imam Abu Ya&#8217;qub dan wafat tahun 294 H dengan umur mendekati 80 tahun.&#8221; Ayah beliau adalah seorang ahli hadis dan fiqh yang sangat masyhur pada zamannya yaitu Imam Ishaq bin Rahawaih –rahimahullah-.</p>
<p style="text-align:justify;">3.Abul Harits Abdullah bin Muslim Al Fihry (Majhul dan disanksikan membuat hadis palsu)</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Adz Dzahaby berkata : &#8220;Saya tidak kenal siapa dia sebenarnya.&#8221; Dalam kitab Al Lisan -setelah menukil ucapan Adz Dzahaby- Ibnu Hajar Al Asqalany mengatakan : &#8220;Saya sanksi ia (Abdullah bin Muslim) adalah orang yang sama dengan rawi (yang disebutkan oleh Adz Dzahaby –pent-) sebelumnya.&#8221; Yaitu rawi yang disebutkan oleh Adz Dzahaby dalam Al Mizan sebelum menyebut biografi Abdullah bin Muslim Al Fihry ini yang bernama Abdullah bin Musallam bin Rusyaid,rawi ini telah disebutkan oleh Ibnu Hibban bahwa ia tertuduh memalsukan hadis,Ibnu Hibban berkata ; &#8220;Kami dikabarkan oleh sekelompok ahli Ilmu bahwa ia memalsukan hadis dengan mengatas namakan Al Laits, Malik dan Ibnu Lahi&#8217;ah,kitab-kitab hadisnya tidak halal (untuk diriwayatkan).&#8221; Jadi kesimpulan akhir dari ucapan ketiga imam ini adalah bahwa Abdullah bin Muslim merupakan rawi yang majhul,itupun jika ia tidak terbukti melakukan pemalsuan terhadap hadis-hadis Rasulullah –shallallahu&#8217;alaihi wasallam-. 4.Ismail bin Maslamah Al Qa&#8217;naby (Shaduq)</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau saudara Imam Abdullah bin Maslamah Al Qa&#8217;naby dan merupakan penduduk Medinah,kuniyahnya Abu Bisyr dan kadang disebut Abu Muhammad. Beliau wafat di Mesir tahun 209 H.Ia telah dinilai sebagai rawi yang tsiqah oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya &#8220;Ats Tsiqat&#8221; .Abu Hatim Ar Razy berkata : &#8220;Shaduq&#8221; ,ia juga telah dinyatakan &#8220;tsiqah&#8221; oleh Adz Dzahaby dalam Al Mizan ,namun Ibnu Hajar menyatakan bahwa ia &#8220;Shaduq memiliki beberapa kesalahan (dalam riwayat hadisnya).&#8221; Akan tetapi yang lebih benar adalah pendapat kebanyakan ulama bahwa ia Shaduq La Ba&#8217;sa bihi.</p>
<p style="text-align:justify;">5.Abdurrahman bin Zaid bin Aslam (Dho&#8217;if)</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau wafat tahun 182 H.Ia telah dinyatakan &#8220;dho&#8217;if&#8221; oleh semua ulama Jarh wa Ta&#8217;dil seperti Imam Ahmad, Bukhary, Ibnul Madiny, Nasa&#8217;i, Daraquthny dan selain mereka . Sebab itu Ibnul Jauzi menyimpulkan &#8220;Mereka (para ulama) telah sepakat atas dho&#8217;ifnya (Abdurrahman).&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">6.Zaid bin Aslam (Tsiqah)</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau adalah ayah Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, wafat tahun 136 H, Ibnu Hajar berkata : &#8220;Ia tsiqah dan alim.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">7.Aslam Maula &#8216;Umar bin Khaththab –radhiyallahu &#8216;anhu- (Tsiqah).</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau ayah Zaid bin Aslam,merupakan seorang tsiqah muhadhram .Wafat tahun 80-an H,ada yang mengatakan setelah tahun 60-an dengan umur 114 tahun. Ia telah diriwayatkan oleh para imam penulis kutubussittah.</p>
<p style="text-align:justify;">8.Umar bin Khaththab –radhiyallahu &#8216;anhu- (Sahabat Nabi –shallallahu &#8216;alaihi wasallam-).</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau seorang sahabat yang mulia Amirul Mukminin dan Khalifah kedua, Abu Hafsh Umar bin Al Khaththab bin Nufail Al Qurasyi Al &#8216;Adawy.Beliau mati syahid tahun 23 H dengan umur 63 tahun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.Sanad Dengan Jalur Lain Selain Jalur Al Hakim</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selain diriwayatkan oleh Al Hakim dan dari jalurnya oleh Baihaqi dan Ibnu Asakir,hadis ini juga diriwayatkan oleh Thabrany dalam Al Mu&#8217;jam Ash Shaghir dan Al Ajurry dalam Asy Syari&#8217;ah. -Imam Thabrany meriwayatkan hadis ini dari jalur Muhammad bin Daud bin Aslam Ash Shafadi Al Mishry dari Ahmad bin Said Al Madani Al Fihry dari Abdullah bin Ismail Al Madani dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ayahnya dari kakeknya dari Umar dari Nabi –shallallahu&#8217;alaihi wasallam-. -Sedangkan Al Ajurry meriwayatkan hadis ini dari jalur Abu Bakr bin Abu Daud dari Abul Harits Al Fihry dari Said bin &#8216;Amr dari Abu Abdirrahman bin Abdullah bin Ismail Ibnu binti Abi Maryam dari Abdurrahman bin Zaid dari ayahnya dari kakeknya dari Umar secara mawquf (dari perkataan Umar) dan bukan merupakan sabda Rasulullah –shallallahu&#8217;alaihi wasallam-. Setelah menyebutkan beberapa sanad hadis ini,jelaslah bahwa pusat jalur periwayatan hadis ini berkisar pada Abdurrahman bin Zaid bin Aslam karena semua jalur hadis ini bersumber darinya. Catatan Penting : Setelah Imam Hakim menyebutkan hadis ini dalam Mustadraknya beliau menyatakan : &#8220;Hadis ini sanadnya shahih….&#8221; Pernyataan ini kemudian diikuti oleh imam Taqyuddin As Subky dalam kitab &#8220;Syifaa As Saqom&#8221;, akan tetapi pernyataan ini dibantah oleh kebanyakan para ulama ahli hadis karena dalam sanad hadis ini terdapat beberapa rawi yang tidak bisa diterima riwayat hadisnya sebagaimana yang nampak dalam uraian derajat Jarh wa Ta&#8217;dil para rawi di atas yang akan dijelaskan dalam pembahasan berikut.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4.Penjelasan Tentang Derajat Hadis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Imam Hakim yang menilai hadis ini shahih sangat bertentangan dengan kaidah ahli hadis dalam menilai shahih dho&#8217;ifnya sebuah hadis,sebab itu para ahli hadis membantah penilaiannya ini dan menjelaskan derajat hadis yang sebenarnya.Diantara mereka adalah Imam Adz Dzahaby dalam kitabnya Talkhis Al Mustadrak,ketika menyebutkan penilaian shahih Al Hakim terhadap hadis ini beliau langsung membantah hal ini dan berkata : &#8220;(Tidak benar) bahkan hadis ini maudhu&#8217; (palsu),karena Abdurrahman (bin Zaid) dho&#8217;if sedangkan Abdullah bin Muslim Al Fihry saya tidak tahu siapa dia sebenarnya.&#8221; Dalam kitabnya yang lain &#8220;Mizan Al I&#8217;tidal&#8221; beliau mengomentari hadis ini : &#8220;Hadis yang batil.&#8221; Pernyataan Imam Adz Dzahaby ini disepakati oleh Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalany dalam kitabnya Lisan Al Mizan .Diantara ahli hadis yang menilai dho&#8217;if hadis ini adalah Imam Baihaqy dalam &#8220;Ad Dalaail&#8221; yang meriwayatkan hadis ini melalui jalur Al Hakim namun ia tidak menyatakannya shahih seperti penilaian Al Hakim,akan tetapi ia menyatakan : &#8220;Hadis ini diriwayatkan secara tafarrud oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari jalur ini,dan dia (Abdurrahman) adalah rawi yang dho&#8217;if.&#8221; Sebab itu dari penguraian derajat para rawi dan penilaian para ahli di atas kita dapat menyimpulkan bahwa hadis ini batil dari beberapa segi sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">1.Dho&#8217;ifnya Abdurrahman bin Zaid bin Aslam Ia adalah seorang rawi yang tidak ada seorang ahli hadis pun berhujjah dengan riwayatnya karena mereka sepakat akan dho&#8217;ifnya,sebagaimana yang telah disebutkan pada no.5 dalam uraian derajat para rawi diatas.</p>
<p style="text-align:justify;">2.Adanya beberapa rawi yang majhul dalam sanad hadis ini.</p>
<p style="text-align:justify;">a. Abdullah bin Muslim Al Fihry Ia adalah seorang yang majhul,bahkan Ibnu Hajar Al &#8216;Asqalany menyangsikan jika ia adalah orang yang sama dengan rawi yang bernama Abdullah bin Musallim bin Rusyaid yang tertuduh melakukan pemalsuan hadis-hadis Rasulullah –shallallahu&#8217;alaihi wasallam-.Jika yang dinyatakan Ibnu Hajar ini benar,maka hadis di atas dihukumi sebagai hadis yang maudhu&#8217; (palsu) karena dalam deretan rawinya terdapat seorang yang tertuduh memalsukan hadis.</p>
<p style="text-align:justify;">b.Dalam Riwayat Ath Thabrany ; Semua rawi yang setelah Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dihukumi Majhul dan semua hadis yang dalam sanadnya terdapat majhul maka ia adalah hadis yang dho&#8217;if dan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.Ini telah disebutkan oleh Al Hafidz Al Haitsamy dalam kitabnya &#8220;Majma&#8217; Zawaaid&#8221; : &#8220;Hadis ini diriwayatkan oleh Ath Thabrany dalam Al Mu&#8217;jam Al Awsath dan Ash Shaghir , dan dalam sanadnya ada beberapa (rawi) yang saya tidak kenal.&#8221; Ini menunjukkan bahwa rawi-rawi tersebut majhul. Hal ini disepakati oleh Al &#8216;Allamah Al Albany dalam kitabnya &#8220;At Tawassul&#8221;,setelah menyebutkan sanad hadis riwayat Ath Thabrany ini beliau berkomentar : &#8220;Dan (sanad hadis) ini adalah sanad yang mudzlim (tidak jelas) karena semua rawi yang setelah Abdurrahman tidaklah dikenal.&#8221; c.Dalam Riwayat Al Ajurry : Semua rawi yang setelah Abdurrahman bin Zaid tidaklah diketahui derajat Jarh wa Ta&#8217;dil mereka. 3.Adanya &#8220;Idhthirab&#8221; dalam penisbatan hadis ini. Al &#8216;Allamah Al Albany berkata : &#8220;Dan menurut saya hadis ini memiliki &#8216;illat (cacat) yang lain yaitu idhthirabnya Abduraahman bin Zaid bin Aslam atau rawi setelahnya dalam menyebutkan sanad hadis ini. Kadang ia meriwayatkan hadis ini secara marfu&#8217; (dari sabda Rasulullah –shallallahu&#8217;alaihi wasallam- sebagaimana dalam riwayat Al Hakim dan Ath Thabraby –pent-) dan kadang meriwayatkannya secara mawquf pada perkataan Umar dan tidak menyandarkannya kepada Nabi –shallallahu&#8217;alaihi wasallam- sebagaimana dalam riwayat Al Ajurry dalam Kitab Asy Syari&#8217;ah dari jalur Abdullah bin Isma&#8217;il bin Abi Maryam dari Abdurrahman bin Zaid sampai seterusnya. Adapun Abdullah ini,maka saya tidak juga mengenalnya,sebab itu hadis ini tidaklah shahih disandarkan kepada Umar baik secara marfu&#8217; maupun secara mawquf…&#8221; Beliau juga berkata : &#8220;Kesimpulannya bahwa hadis ini tidaklah memiliki sumber dari Rasulullah –shallallahu&#8217;alaihi wasallam- sehingga tidak diragukan lagi jika kedua orang Hafidz yang mulia Adz Dzahaby dan Ibnu Hajar Al &#8216;Asqalany menilainya sebagai hadis yang batil….&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5.Hasil Akhir (Kesimpulan)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Derajat Hadis Di Atas Setelah menguraikan beberapa sisi kelemahan dan cacat hadis di atas maka jelaslah bahwa ia merupakan hadis yang dho&#8217;if jiddan (sangat lemah) dikarenakan adanya tiga cacat atau sisi kelemahan yang telah disebutkan. Oleh karena itu penilaian Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak yang menyatakan hadis ini shahih,yang kemudian diikuti oleh Taqyuddin As Subky dalam kitabnya &#8220;Syifaa As Saqom&#8221; telah terbantahkan dengan adanya beberapa bukti kuat yang telah disebutkan oleh para ahli hadis di atas. Wallaahu Ta&#8217;ala A&#8217;lam wa Ahkam. (Bersambung)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/markazassunnah.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/markazassunnah.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/markazassunnah.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/markazassunnah.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/markazassunnah.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/markazassunnah.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/markazassunnah.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/markazassunnah.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/markazassunnah.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/markazassunnah.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/markazassunnah.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/markazassunnah.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/markazassunnah.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/markazassunnah.wordpress.com/322/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=322&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/07/02/kedudukan-hadits-tawassul-nabi-adam-%e2%80%93alaihissalam-dengan-hak-kehormatan-nabi-muhammad-%e2%80%93shallallahualaihi-wasallam-bag-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d01f3ca430c180837cffa37105eace3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">markazassunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HADITS “PERBEDAAN DIANTARA UMMATKU ADALAH RAHMAT”</title>
		<link>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/06/06/hadits-%e2%80%9cperbedaan-diantara-ummatku-adalah-rahmat%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/06/06/hadits-%e2%80%9cperbedaan-diantara-ummatku-adalah-rahmat%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 15:28:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>markazassunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dirasah Haditsiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazassunnah.wordpress.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Alih Bahasa: Abu Shafa Luqmanul Hakim             Segala puji bagi Allah –subhanahu wa ta’ala- atas anugerah yang senantiasa tercurah, shalawat dan salam semoga terhatur bagi Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat dan seluruh umatnya hingga hari kiamat.             Redaksi hadits di atas sangatlah masyhur di tengah kaum muslimin dewasa ini, hampir seluruh lapisan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=319&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Alih Bahasa: Abu Shafa Luqmanul Hakim</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>            </strong>Segala puji bagi Allah <em>–subhanahu wa ta’ala- </em>atas anugerah yang senantiasa tercurah, shalawat dan salam semoga terhatur bagi Nabi Muhammad <em>–shallallahu ‘alaihi wa sallam-</em>, para sahabat dan seluruh umatnya hingga hari kiamat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>            </strong>Redaksi hadits di atas sangatlah masyhur di tengah kaum muslimin dewasa ini, hampir seluruh lapisan masyarakat menghafalnya, mimbar-mimbar jum’at terguncang olehnya, lisan-lisan begitu fasih mengumbarnya, namun satu hal yang perlu kita pertanyakan, bagaimanakah derajat hadits diatas menurut para pakar hadits?, untuk menjawab pertanyaan diatas, kami suguhkan dalam artikel ini hasil kajian Fadhilatus Syaikh Muhadditsul ‘Ashr Muhammad bin Nashiruddin al-Albani <em>–rahimahullah-</em> terhadap hadits ini, semoga artikel sederhana ini bisa mengobati kegusaran kita atas pertanyaan di atas, wallahu waliyyut taufiq.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Redaksi Hadits:</span></strong></p>
<h2 style="text-align:justify;"><strong>اختلاف أمتي رحمة</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><strong>Artinya: <em>Perbedaan di antara ummatku adalah rahmat</em><span id="more-319"></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Nashirudin al-Albani mengatakan: ”hadits ini tidak ada asal usulnya.</p>
<p style="text-align:justify;">            Sungguh para ulama pakar hadits telah berupaya untuk mendapatkan sanad<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> hadits ini, namun mereka tidak mendapatkannya, sampai as-Suyuthi <em>–rahimahullah- </em>mengatakan: ”Mungkin hadits ini diriwayatkan dalam kitab para ulama yang [kitab tersebut] hilang sehingga tidak sampai ke tangan kita”.</p>
<p style="text-align:justify;">            Menurut pendapatku [Fadhilatus Syaikh Albani], pernyataan ini jauh dari kebenaran, karena konsekwensi dari ucapan ini adalah justifikasi atas lenyapnya hadits-hadits Rasulullah <em>–shalallahu ‘alaihi wasallam-</em>, tentunya sangat tidak layak bagi seorang muslim untuk meyakini pernyataan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">            Al-Munawi <em>–rahimahullah-</em> menukil pernyataan Tajuddin as-Subki <em>–rahimahullah-</em>, bahwa beliau mengatakan: ”hadits ini tidak dikenal di kalangan para ahli hadits, dan saya belum mendapatkan sanadnya, baik yang derajatnya shahih, hasan, maupun yang derajatnya palsu”. Fadhilatus Syaikh Zakariya al-Anshari <em>–rahimahullah-</em> menyepakati pernyataan tersebut dalam komentarnya atas tafsir al-Baidhawi.</p>
<p style="text-align:justify;">            Adapun kritikan dari sisi makna hadits, maka sesungguhnya makna yang terkandung dalam hadits ini telah diingkari oleh para ulama peneliti, Ibnu Hazm ad-Dhahiri <em>–rahimahullah-</em> mengatakan dalam kitabnya “al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam”, setelah beliau <em>mentarjih</em> bahwa riwayat diatas <strong>[perbedaan diantara umatku adalah rahmat]</strong> bukanlah hadits Nabi: ”pernyataan ini sangat rusak, sebab jika kita terima bahwa <span style="text-decoration:underline;">perselisihan diantara umatku adalah rahmat maka konsekwensinya adalah kesepakatan umat adalah kebencian [Allah]</span>, dan seorang muslim tentu tidak akan mengucapkan perkataan ini, karena hanya ada dua opsi, kesepakatan atau perselisihan, maka hasilnya-pun salah satu diantara dua hal, rahmat atau kebencian [Allah]. Dan di halaman lain dari kitabnya beliau mengatakan:”hadits ini batil dan palsu”.</p>
<p style="text-align:justify;">            Diantara dampak negatif dari hadits ini adalah tenggelamnya para penganut empat madzhab dalam perselisihan dan perpecahan, dan nampaknya tidak ada upaya untuk merujuk kepada al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih [untuk mentarjih perselisihan tersebut], sebagaimana yang dianjurkan oleh para imam mereka <em>–radhiyallahu ‘anhum-</em>, bahkan mereka mengumpamakan madzhab-madzhab yang beragam bak syariat yang beragam, mereka mengatakan pernyataan ini, padahal mereka mengetahui bahwa sebagian perselisihan dan kontradiksi tidak bisa ditarjih kecuali setelah merujuk kepada dalil, dan menolak pendapat yang menyelisihi dalil serta menerima pendapat yang lebih dekat kepada dalil, namun mereka tidak melaksanakan hal tersebut, maka dengan ini seakan mereka menisbatkan kepada agama ini kontradiksi, dan hal ini merupakan bukti kuat bahwa perselisihan tersebut bukan datang dari Allah <em>–subhanahu wa ta’ala-</em> jika mereka benar-benar merenungi firman Allah:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>ولو</strong><strong> </strong><strong>كان من عند غير الله لوجدوا</strong><strong> </strong><strong>فيه اختلافا كثيرا</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Artinya: <em>Dan seandainya [al-Qur’an] datang dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di dalamnya perselisihan yang banyak</em>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">            Ayat di atas dengan gamblang menyatakan bahwa perselisihan bukan datang dari Allah, maka sangat keliru apabila menjadikannya [perselisihan] sebagai bagian syariat, dan amat besar salahnya apabila menjadikannya [perselisihan] sebuah rahmat.</p>
<p style="text-align:justify;">            Dan disebabkan hadits ini pula, mayoritas kaum muslimin -pasca berakhirnya masa imam empat madzhab-  terjerembab dalam jurang perselisihan dalam masalah ilmiah [aqidah] maupun amaliyah [ibadah], alangkah indahnya apabila mereka mengetahui bahwa perselisihan adalah sebuah keburukan –sebagaimana yang dikatakan Ibnu Mas’ud- yang <em>ditaqrir</em>  di dalam al-Qur’an dan hadits yang shahih, niscaya mereka akan berbondong-bondong untuk bersepakat dalam banyak permasalahan yang telah Allah tegakkan dalil tentangnya, dan kemudian berupaya membuka pintu udzur bagi beberapa masalah yang mungkin masih terbuka pintu perbedaan di dalamnya, namun bagaimana mereka akan melaksanakan hal ini jika menurut anggapan mereka bahwa perselisihan adalah Rahmat dan keberagaman madzhab bagaikan  keanekaragaman syariat. Dan jika anda ingin mengetahui betapa besar perselisihan dalam tubuh umat ini, maka tiliklah beberapa masjid di tengah kaum muslimin, niscaya anda akan mendapatkan beberapa diantaranya memiliki empat buah mihrab, yang kemudian masing-masing mihrab menjadi tempat shalat madzhab-madzhab tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">            Bahkan lebih dari itu, sebagian penganut madzhab rela mengakhirkan shalat demi melaksanakannya bersama sang imam madzhab, seakan-akan madzhab adalah agama yang berbeda-beda,  dan hal ini tentunya tidaklah aneh, sebab para ulama madzhab tersebut membisikan kepada mereka:”bahwa madzhab-madzhab tersebut bak syariat yang beragam”, lupakah gerangan mereka dengan sabda Nabi -<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam<strong>-</strong></em><strong>:”<em>Apabila iqamat telah terdengar, maka tidak ada shalat selain shalat wajib [dengan berjamaah</em>]”<a title="" href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></strong>. Namun ternyata mereka berani menyelisihi hadits tersebut demi menjaga fanatisme terhadap madzhab, seakan keagungan madzhab lebih besar dibanding  keagungan hadits-hadits Rasulullah -<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam-.</em></p>
<p style="text-align:justify;">            Ringkasnya, perselisihan merupakan hal tercela dalam syariat islam, olehnya kewajiban kita adalah menjauhinya sesuai kemampuan, sebab hal itu merupakan faktor pelemah umat, sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"><strong>ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Artinya: <em>Janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian menjadi lenyap</em>.<a title="" href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>            </strong>Adapun sikap ridha terhadap perselisihan, bahkan menyifatinya dengan rahmat, maka hal ini menyelisihi ayat-ayat al-qur’an yang mencelanya, dan ungkapan tersebut tidak berpijak pada dalil kecuali hadits  yang tidak memiliki asal usul ini.</p>
<p style="text-align:justify;">            Setelah pembahasan ini, mungkin akan terbetik dalam sanubari kita sebuah pertanyaan besar, sesungguhnya para sahabat berselisih dengan sahabat yang lain, apakah mereka tercakup pula dalam celaan yang kita bahas tadi?.</p>
<p style="text-align:justify;">            Jawaban dari pertanyaan ini datang dari Ibnu Hazm <em>–rahimahullah-</em>, beliau berkata: ”sekali-kali tidak, sesungguhnya para sahabat tidak tercakup dalam celaan diatas, sebab setiap dari mereka berupaya untuk menapaki jalan Allah, apabila mereka terjatuh pada kesalahan maka satu pahala tercatat untuk mereka atas niat terpuji dalam hati mereka berupa upaya untuk mendapatkan kebaikan, dan tidak tercatat atas kesalahan tersebut sebagai dosa karena terjatuhnya mereka ke dalam kesalahan bukan disebabkan unsur kesengajaan dan kelalaian dalam menuntut kebenaran, dan apabila pendapat mereka benar maka dua pahala tercatat untuk mereka, hal ini berlaku pula bagi seluruh kaum muslimin yang samar bagi mereka kebenaran dan belum sampai kepada mereka dalil. Adapun celaan yang tercantum dalam nash-nash al-qur’an dan sunnah, berlaku bagi orang yang meninggalkan dalil al-qur’an dan assunnah setelah sampainya dalil dan hujjah kepadanya, dan bergantung kepada pendapat si fulan dan si fulan, lebih mengutamakan taklid buta dan bermaksud untuk berselisih, mengajak pada fanatisme golongan dan seruan jahiliyah, sengaja untuk berpecah belah, menolak dalil dari al-qur’an dan assunnah, apabila dalil sesuai dengan nafsunya maka dia akan mengambilnya, namun jika dalil tersebut berkontradiksi dengan nafsunya, maka dalilpun akan dicampakkan<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>, Wallahu Musta’an.</p>
<p style="text-align:justify;">            Berakhirlah kajian kita tentang hadits <strong>“perselisihan diantara umatku adalah rahmat”</strong>, semoga artikel sederhana ini bisa memberikan faedah bagi segenap kaum muslimin tentang titik lemah dari hadits tersebut, dan bisa membangkitkan semangat untuk mentarjih pendapat yang memiliki pijakan dalil dari al-qur’an maupun assunnah. Dan akhirnya, serangkaian doa kami hadiahkan untuk Fadhilatus Syaikh, semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan menerima amalan beliau serta menempatkan beliau di surga-Nya, akhirul kalam, Shalawat dan Salam semoga tercurahkan untuk Nabi Muhammad <em>–shallallahu ‘alaihi wa sallam-</em>, para sahabat, kerabat, dan seluruh pengikutnya sampai datangnya hari kiamat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>            </strong></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>. Mata rantai perawi hadits yang meriwayatkan hadits ini.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>. HR. Muslim dan yang lainnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>. Surat al-Anfal 46</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>. Sumber dari artikel ini adalah kitab “ Silsilah Ahadits ad-Dhaifah wal Maudhu’ah Wa Atsaruha as-Sayyi’ Fil Ummah, karya Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani <em>–rahimahullah-</em>.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/markazassunnah.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/markazassunnah.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/markazassunnah.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/markazassunnah.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/markazassunnah.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/markazassunnah.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/markazassunnah.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/markazassunnah.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/markazassunnah.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/markazassunnah.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/markazassunnah.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/markazassunnah.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/markazassunnah.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/markazassunnah.wordpress.com/319/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=319&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/06/06/hadits-%e2%80%9cperbedaan-diantara-ummatku-adalah-rahmat%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d01f3ca430c180837cffa37105eace3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">markazassunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TARIKH PENULISAN ‘ULUMUL HADITS (Bagian-1)</title>
		<link>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/06/06/tarikh-penulisan-%e2%80%98ulumul-hadits-bagian-1/</link>
		<comments>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/06/06/tarikh-penulisan-%e2%80%98ulumul-hadits-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 15:21:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>markazassunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tadwin as-sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazassunnah.wordpress.com/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[TARIKH PENULISAN ‘ULUMUL HADITS[1] Bagian Pertama Oleh: Abu Shafa Luqmanul Hakim Muqaddimah الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي رسوله الأمين وعلي آله وأصحابه الطاهرين ومن اهتدي بهداهم إلي يوم الدين, أما بعد :           Adalah merupakan kesepakatan kaum muslimin bahwa al-Hadits merupakan sumber syariat islam kedua setelah al-Qur-an, karenanya mempelajari hadits-hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=316&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">TARIKH PENULISAN ‘ULUMUL HADITS<a title="" href="#_ftn1"><strong><span style="text-decoration:underline;">[1]</span></strong></a></span></strong></p>
<p align="center"><strong>Bagian Pertama</strong></p>
<p align="center"><strong>Oleh: Abu Shafa Luqmanul Hakim</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Muqaddimah</strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL">الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي رسوله الأمين وعلي آله وأصحابه الطاهرين ومن اهتدي بهداهم إلي يوم الدين, أما بعد :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>          </strong>Adalah merupakan kesepakatan kaum muslimin bahwa al-Hadits merupakan sumber syariat islam kedua setelah al-Qur-an, karenanya mempelajari hadits-hadits Rasulullah <em>–shallallahu ‘alaihi wasallam-</em> merupakan kewajiban sebagaimana mempelajari al-Qur-an<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>, olehnya, demi menyempurnakan pengkajian kita terhadap hadits-hadits Nabi Muhammad <em>–shallallahu ‘alaihi wasallam-</em>, dan memudahkan dalam menelaah sunnah yang diwariskan oleh beliau, serta mampu memilah antara yang shahih dan yang dha’if dari hadits dan sunnah tersebut, maka dibutuhkan <em>wasilah</em> khusus yang bisa  merealisasikan hal tersebut, <em>wasilah</em> tersebut adalah ‘Ulumul Hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">          ‘Ulumul Hadits merupakan ilmu mulia, barang siapa yang mahir dalam disiplin ilmu ini, maka sungguh telah mendapatkan kebaikan yang besar, karena ilmu ini merupakan kunci pokok untuk mempelajari hadits-hadits Nabi, barangsiapa yang mempelajarinya maka akan banyak berinterakasi dengan sunnah-sunnah Rasulullah, sehingga sangat berpotensi untuk lebih mengenal sunnah beliau, bahkan tidak menutup kemungkinan akan terbangun sebuah kemampuan yang luar biasa, yaitu keahlian dalam memilah hadits shahih dan hadits dhaif.</p>
<p style="text-align:justify;">          Sesungguhnya para ulama kita telah menjaga hadits-hadits Nabi dengan penuh amanah, <em>rihlah</em> dalam rangka menuntut ilmu hadits telah mereka lakukan, lisan mereka telah meriwayatkan dan mengajarkan warisan kenabian, pena telah mereka tegakkan demi mengumpulkan sunnah nabawiyah dalam lembaran-lembaran, dan tintapun telah mereka teteskan demi menjaga hadits Nabi nan suci. Diantara upaya konkret dalam menjaga hadits Nabi Muhammad <em>–shallallahu ‘alaihi wasallam-</em> adalah proses tadwin [pembukuan] ‘Ulumul Hadits, ilmu ini berisi tentang kriteria-kriteria hadits shahih, hadits hasan, maupun hadits dhaif, mencakup pula ilmu jarh [celaan] wat ta’dil [pujian] dan ilmu ‘ilalul hadits, kendati kedua ilmu yang terakhir menjadi ilmu yang independen disebabkan luasnya pembahasan.<span id="more-316"></span></p>
<p style="text-align:justify;">          Artikel sederhana ini, insya Allah akan memandu para ikhwah sekalian untuk mengenal lebih “intim” ‘Ulumul Hadits dan sejarah penulisannya, demi memudahkan penyusunan dari makalah ini, maka kami akan membagi makalah ini dalam dua bab:</p>
<p style="text-align:justify;">Bab Pertama: Mengenal ‘Ulumul Hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">Bab ini terdiri dari dua pasal:</p>
<p style="text-align:justify;">Pasal Pertama: Definisi ‘Ulumul Hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasal Kedua: Urgensi ‘Ulumul Hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">Bab  Kedua: Sejarah Ringkas Perkembangan ‘Ulumul Hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">Bab ini akan dihiasi dengan tiga pasal:</p>
<p style="text-align:justify;">Pasal Pertama: Abad pertama – Abad ketiga.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasal kedua: Abad keempat – Abad keenam.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasal Ketiga: Abad ketujuh – Abad kesepuluh.</p>
<p style="text-align:justify;">          Inilah point-poin yang insya Allah akan kami bahas dalam artikel ini, semoga Allah memberikan kemudahan dalam menuntaskannya, wallahu waliyyut taufiq.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bab Pertama: Mengenal ‘Ulumul Hadits</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pasal Pertama: Definisi ‘Ulumul Hadits</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>          </strong>‘Ulumul hadits adalah kalimat yang terdiri dari dua kosakata, yang pertama kata ‘ulum dan yang kedua kata hadits, kata ‘ulum merupakan bentuk jamak [plural], bentuk mufradnya [singular] adalah al-ilmu, kata al-ilmu dalam terminologi bahasa datang dengan makna meyakini sesuatu dan mengetahuinya sesuai dengan substansinya<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>, atau merupakan antonim [lawan kata] dari kata bodoh.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">          Sedangkan maknanya secara istilah adalah keyakinan kuat yang selaras dengan realita<a title="" href="#_ftn5">[5]</a>, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan:”ilmu adalah mengetahui sesuatu dengan penuh keyakinan sesuai dengan subtansinya”.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">          Adapun makna al-hadits secara bahasa adalah antonim [lawan kata] dari kata al-qadim [lama]<a title="" href="#_ftn7">[7]</a>, atau merupakan sinonim dari kata kabar dan berita, yang memiliki makna setiap perkataan yang dipercakapkan dan dinukil melalui indera pendengar ataupun wahyu dalam keadaan sadar atau tidur yang sampai kepada manusia.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">          Sedangkan definisi hadits secara istilah, maka banyak dari kalangan ulama yang berandil dalam mendefinisikannya, diantaranya:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Muhammad bin Yusuf al-Karmani <em>–rahimahullah-</em> mengatakan: ”hadits adalah ilmu yang dengannya diketahui perkataan Rasulullah, perbuatannya dan keadaannya”.<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></li>
<li>Syaikh Islam ibnu Taimiyah <em>–rahimahullah-</em> mengatakan:”Hadits Nabi –jika dimutlakkan- maka maknanya adalah hal-hal yang datang dari beliau setelah kenabian berupa perkataan, perbuatan, dan persetujuan”.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></li>
<li>Ibnu Hajar al-‘Asqalani <em>–rahimahullah-</em> mengatakan:”hadits adalah hal-hal yang disandarkan kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-“.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></li>
<li>Muhammad bin ‘Abdurrahman as-Sakhawi <em>–rahimahullah-</em> mengatakan:”hadits adalah hal-hal yang dinisbatkan kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- berupa perkataan atau perbuatan atau persetujuan atau sifat bahkan termasuk pula gerakan dan diamnya beliau ketika sadar ataupun ketika tidur”.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Jika kita cermati beberapa definisi diatas, maka –mungkin- definisi yang terbaik adalah definisi dari al-Imam as-Sakhawi <em>–rahimahullah-</em>, karena definisi beliau mencakup seluruh aspek kehidupan Rasulullah <em>–shalallahu ‘alaihi wa sallam-</em>, wallahu ta’ala a’lam.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun kalimat ‘Ulumul Hadits, maka para ulama menjadikannya sebagai disiplin ilmu yang independen, kalimat tersebut merupakan <em>muradif</em> [sinonim] dari Ilmu Musthalahul Hadits yang lebih masyhur di kalangan kaum muslimin, definisi secara istilah yang terperinci tentang ilmu ini datang dari Ibnu Shalah <em>–rahimahullah-</em>, beliau mengatakan:”seluruh ilmu dan pengetahuan yang mengkaji hadits Nabi dari sisi periwayatan dan pengumpulannya dalam kitab, atau dari sisi penjelasan tentang shahih dan dhaifnya, atau dari sisi pembahasan, kritikan, jarh [celaan] dan ta’dil [pujian] terhadap perawinya, atau dari sisi penjelasan tentang <em>gharibul hadits</em> [kosakata yang butuh untuk dijelaskan] atau <em>nasikh dan mansukhnya, </em>atau dari sisi mukhtalif [nash yang dhahirnya berkontradiksi] dan muta’aridhnya, atau dari sisi penjelelasan maknanya dan istimbath [konklusi] hukum-hukumnya dan lain sebagainya yang memiliki kaitan dengan hadits Nabi.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Perlu diketahui, bahwa ‘Ulumul Hadits terbagi menjadi dua, <strong>1.</strong> <strong>Ilmul Hadits Riwayah</strong>, yaitu ilmu yang memiliki perhatian pada sisi periwayatan setiap yang disandarkan kepada Nabi berupa perkataan, perbuatan, sifat, dan persetujuan, dan seluruh yang disandarkan kepada para sahabat maupun para tabi’in. <strong>2. Ilmul Hadits Dirayah</strong>, yaitu kumpulan teori tentang pembahasan yang dapat menyingkap keadaan para perawi dan yang diriwayatkannya [redaksi hadits] dari sisi diterima [shahih] atau ditolak [dha’if]<a title="" href="#_ftn14">[14]</a>, dan upaya untuk memahami matan hadits [redaksi hadits] dengan pemahaman yang ilmiyah<a title="" href="#_ftn15">[15]</a>,  disiplin ilmu ini lebih masyhur dengan sebutan Ilmu Mushthalahul Hadits.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pasal Kedua: Urgensi ‘Ulumul Hadits</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>          </strong>‘Ulumul hadits merupakan ilmu yang penting, ilmu ini merupakan perangkat utama untuk menjadi seorang ahli hadits yang mumpuni, dalam pasal ini kami akan membahas tentang urgensi ilmu ini, semoga pembahasan tentang hal ini semakin menebalkan minat kita untuk mempelajari dan mengkajinya. Diantara faedah mulia dan buah manis yang bisa dipetik oleh para pengkaji ilmu ini adalah sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>‘Ulumul hadits merupakan ilmu yang mulia, sebab pembahasan ilmu ini berkaitan langsung dengan hadits-hadits Rasulullah <em>–shallallahu ‘alaihi wasallam-</em>, dan merupakan kaedah yang masyhur di kalangan ulama:</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" align="center">شرف العلم بشرف المعلوم</p>
<p style="text-align:justify;"> Artinya: Kemuliaan ilmu tergantung kemuliaan pembahasannya.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mempelajari ilmu ini berpotensi menjadikan kita memperoleh keutamaan yang dikandung oleh hadits Rasulullah yang berbunyi:</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" align="center">نضّرالله امرأ سمع مقالتي فوعاها وحفظها وأدّاها كما سمع</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>Semoga Allah menjadikan berseri-seri wajah orang yang menyimak perkataanku, kemudian berupaya untuk memahaminya dan menghafalnya, lalu menyampaikannya sesuai yang didengar</em>.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ilmu ini akan memberikan bekal bagi para penuntut ilmu syar’i  untuk mengkaji hadits-hadits Rasulullah <em>–shallallahu wa sallam-</em>, sebab semua cabang ilmu syar’i membutuhkan pengetahuan terkait disiplin ilmu ini, seorang ahli tafsir, seorang faqih, dan seorang ahli aqidah membutuhkan hadits-hadits shahih dalam beristidlal, dan kemampuan untuk memilah hadits shahih dan dha’if terbangun dengan ilmu ini.</li>
<li>Membekali penuntut ilmu hadits -secara khusus- kunci pengetahuan terkait dasar-dasar periwayatan, syarat-syarat diterima dan ditolaknya hadits, mengenal para perawi terpercaya dan perawi yang ditolak riwayatnya dan lain sebagainya.</li>
<li>Memberikan kemampuan untuk mengenal metodologi para ulama dalam menyaring hadits-hadits Rasulullah <em>–shallallahu ‘alaihi wa sallam-</em>, dan memisahkannya  antara yang shahih dan yang dha’if.</li>
<li>Mengetahui juhud [upaya] para ulama dalam menuntut ilmu ini dan mengajarkannya dari generasi ke generasi, dan merenungi pengorbanan mereka dalam menjaga kemurnian hadits-hadits Rasulullah, sehingga memompa semangat kita dalam menuntut ilmu syar’i, mengajarkan dan mendakwahkannya kepada generasi berikutnya.</li>
<li>Mengenal kota-kota yang menjadi markaz ilmu hadits, dan negeri yang menjadi pusat <em>rihlah </em>dalam menuntut ilmu tersebut, seperti kota Mekah, kota Madinah, kota Khurasan, kota Baghdad, kota Bashrah, kota Mesir dan lain sebagainya.</li>
<li>Mengenal para pakar hadits dari zaman ke zaman, sejak zaman sahabat sampai zaman ini, dan berupaya menelaah sirah [profil] mereka untuk memetik faedah dari manhaj [metodologi] mereka dalam menuntut ilmu, mengetahui adab mereka dalam menuntutnya, serta menilik upaya mereka dalam mengejawantahkan ilmu tersebut  dalam amal nyata.</li>
<li>Ilmu ini akan membentengi kaum muslimin dari rongrongan hadits-hadits lemah dan palsu yang banyak merebak di tengah umat, dan menjaga syariat yang murni ini dari maraknya kesyirikan dan bid’ah yang tumbuh dengan subur di tengah kaum muslimin disebabkan beredarnya hadits lemah dan palsu diantara mereka, serta akan menanamkan urgensi berpegangteguh dengan hadits-hadits Nabi yang shahih dalam membangun agama, baik dalam masalah aqidah, ibadah, akhlaq, maupun mu’amalah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Bersambung Insya Allah, nas’alullahat taufiqa was sadada.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div style="text-align:justify;"></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>. Sumber dari artikel ini adalah makalah ilmiyah yang ditulis oleh empat orang mahasantri Ma’had ar-Raayah ‘Aly Sukabumi Jawabarat, mereka adalah: Abdullah Onyo, Abdul ‘Aziz ‘Afwan, Luqman Hakim bin Muhammad  dan Jefri Zaki, dengan pembimbing Abu Shafa Luqmanul Hakim bin Sudahnan. Makalah ini merupakan persyaratan kelulusan mahasantri Ma’had Aly ar-Raayah Sukabumi, semester empat.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>. Lihat  buku Matan Hadits Arba’in dan Dzikir Pagi dan Petang, diterjemahkan oleh: Ustadzuna al-Fadhil Muhammad Yusran Anshar –hafidhahullah wa saddada khuthaahu-.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>. Lihat Mu’jam al-Wasith.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>. Lihat Lisanul ‘Arab karya Ibnu Mandhur, 9/371.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>. Lihat at-Ta’rifat karya al-Jurjani, 160 .</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>. Al-Ushul Min ‘Ilmil Ushul, karya Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal. 15.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>. Liasanul ‘Arab 3/75.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a>. Lamahat Fi Ushulil Hadits, Muhammad Adib Shalih, hal. 43.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a>. Syarh al-Bukhari karya al-Karmani, lihat pula ‘Umdatul Qari karya al-‘Aini.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a>. Majmu’ul Fatawa 18/6-7.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a>. Lihat Fathul Bari, 1/193.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a>. Lihat Fathul Mughits 1/12.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a>. Muqaddimah Ibnu Shalah hal. 9.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a>. Tadribur Rawi karya as-Suyuthi, hal. 37, beliau menukil pembagian ini dari Ibnu al-Akfani –rahimahullah- dikitabnya Irsyadul Qashid, menurut Abu Mu’adz Thariq bin ‘Iwadhullah –hafidhahullah- pembagian ini masyhur di kalangan ulama muta-akhirin, dan tidak dikenal di kalangan ulama mutaqaddimin.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a>. Silahkan merujuk kitab Adabul Hadits an-Nabawi, hal 12.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/markazassunnah.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/markazassunnah.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/markazassunnah.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/markazassunnah.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/markazassunnah.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/markazassunnah.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/markazassunnah.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/markazassunnah.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/markazassunnah.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/markazassunnah.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/markazassunnah.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/markazassunnah.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/markazassunnah.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/markazassunnah.wordpress.com/316/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=316&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/06/06/tarikh-penulisan-%e2%80%98ulumul-hadits-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d01f3ca430c180837cffa37105eace3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">markazassunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>METODE  DALAM MENGHAFAL HADITS NABI</title>
		<link>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/05/22/metode-dalam-menghafal-hadits-nabi/</link>
		<comments>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/05/22/metode-dalam-menghafal-hadits-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 May 2011 13:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>markazassunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa Haditsiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazassunnah.wordpress.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[METODE  DALAM MENGHAFAL HADITS NABI Oleh: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdulkarim al-Khudhair –Hafidhahullah- Alih Bahasa: Abu Shafa Luqmanul Hakim             Segala puji bagi Allah –subhanahu wa ta’ala- atas anugerah yang senantiasa tercurah, shalawat dan salam semoga terhatur bagi Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat dan seluruh umatnya hingga hari kiamat. Akan “hadir” bersama kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=312&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" align="center"><strong>METODE  DALAM MENGHAFAL HADITS NABI</strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong>Oleh: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdulkarim al-Khudhair –Hafidhahullah-</strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong>Alih Bahasa: Abu Shafa Luqmanul Hakim</strong></p>
<p style="text-align:justify;">            Segala puji bagi Allah –subhanahu wa ta’ala- atas anugerah yang senantiasa tercurah, shalawat dan salam semoga terhatur bagi Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat dan seluruh umatnya hingga hari kiamat.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan “hadir” bersama kita dalam artikel ini Fadhilatus Syaikh Dr. Abdulkarim al-Khudhair –hafidhahullah-, beliau akan membeberkan tips-tips dalam mengkaji dan mempelajari hadits-hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tercinta, semoga kita diberi taufiq oleh Allah –subhanahu wa ta’ala- untuk mengambil faedah dari beliau, selamat menyimak.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimanakah metode yang terbaik untuk menghafal hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-??.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawaban:<span id="more-312"></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Menghafal adalah hal yang sangat urgen bagi seorang penuntut ilmu, jika seorang penuntut ilmu tidak memiliki hafalan maka dia tidak akan memiliki ilmu. Kemampuan hafalan para penuntut ilmu sangat beragam, sebagian mereka memiliki hafalan yang kuat, sehingga sangat mudah baginya untuk menghafal, namun diantara mereka ada juga yang tidak memiliki kemampuan untuk menghafal, sehingga merasa kesulitan dalam masalah ini, dan ada juga diantara mereka yang memiliki kemampuan menghafal sedang-sedang saja.</p>
<p style="text-align:justify;">            Apabila seorang penuntut ilmu memiliki kemampuan menghafal yang kuat, maka hendaknya dia menggunakan metode menghafal yang telah masyhur, memulai dengan menghafal Arba’in an-Nawawiyah, kemudian dilanjutkan dengan menghafal ‘Umdatul Ahkam, lalu menghafal Bulughul Maram atau al-Muharrar Fil Hadits [karya Ibnu Abdil Hadii wafat tahun: 844 H], dan jika telah rampung menghafal kitab-kitab tersebut, maka hendaknya dia memulai untuk mempelajari kitab-kitab hadits yang bersanad [kitab yang meriwayatkan hadits-haditsnya dengan sanad], dimulai dengan Shahih Imam Bukhari, kemudian Shahih Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa-i dan Sunan Ibnu Majah [atau yang dikenal dengan <em>Kutubus Sittah</em>], baru kemudian beralih untuk mempelajari kitab-kitab yang lebih “berat”. Apabila dia menghafal dengan metode yang telah masyhur, sebagai contoh, di zaman sekarang sebagian penuntut ilmu menghafal kitab Shahih Bukhari, dimulai dengan menghafal hadits-hadits yang tidak diriwayatkan secara berulang [kurang lebih 2602 hadits, pent.] oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya dengan tanpa sanad, tentunya metode ini lebih mudah bagi kita karena “hanya” menghafal matan [redaksi hadits] secara langsung tanpa sanad, kemudian menghafal <em>Zawaid</em> Imam Muslim [hadits yang diriwayatkan Imam Muslim sendirian dan tidak disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, pent.], kemudian menghafal <em>Zawaid</em> Sunan Abu Dawud [hadits yang hanya diriwayatkan oleh Abu Dawud sendirian dan tidak disebutkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih mereka, pent.] dengan metode yang dipraktekkan oleh sebagian ikhwah jazahumullahu khairan, ikhwah yang menghidupkan sunnah yang baik ini, maka semoga mereka mendapatkan pahala dan pahala orang-orang yang mengamalkan metode tersebut. Setelah berlalu bertahun-tahun bahkan berabad-abad lamanya, banyak penuntut ilmu yang berputus asa untuk menghafal hadits Rasulullah, nah pada zaman sekarang banyak penuntut ilmu yang berhasil menghafal <em>Zawaid</em> Musnad [Musnad Ahmad, pent.], menghafal <em>Zawaid</em> Muwattha’ [karya Imam Malik, pent.], dan kitab Zawaid yang lainnya, dan hal ini tentunya setelah mereka menghafal <em>Kutubus Sittah</em>, bahkan saya pernah mendengar ada sebagian penutut ilmu yang berhasil menghafal Zawaid al-Baihaqi dan Imam al-Hakim. Fenomena di atas tentunya merebakkan kembali optimisme untuk menghafal hadits-hadits Rasulullah, yang mana mayoritas penuntut ilmu di zaman ini telah berputus asa untuk menghafal hadits-hadits Rasulullah, maka bagi penuntut ilmu yang memiliki kemampuan hafalan yang kuat, hendaknya menggunakan metode ini dalam menghafal hadits, sebab metode tersebut merupakan metode yang baik, kendatipun kita sadar bahwa barang siapa yang menghafal dengan cepat maka akan lupa dengan cepat, namun dengan<em> mudzakarah</em> dan <em>murajaah</em> akan menjadikan hafalan tersebut langgeng.</p>
<p style="text-align:justify;">            Persoalan yang kedua adalah metode untuk memahami hadits-hadits yang telah dihafal, seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk banyak menghafal ketika usianya masih muda belia, kemudian baru melangkah kepada tahap selanjutnya, yaitu upaya untuk memahami dan <em>beristimbath </em>[menyimpulkan hukum] dari hadits yang telah dihafal dengan merujuk kitab-kitab mahakarya para ulama yang mumpuni di bidangnya, sebab seorang penuntut ilmu yang fokusnya hanya menghafal saja tanpa ada upaya untuk memahami dan <em>beristimbath, </em>maka akan terjatuh kepada dua aib, yang pertama tidak memiliki kemampuan untuk <em>berkonklusi</em> [menyimpulkan hukum dari nash], dan aib yang kedua adalah akan menyebabkannya terjatuh pada kesalahan dalam memahami hadits, maka hendaknya para penuntut ilmu merujuk kepada pemahaman <em>salaf</em> dalam memahami nash hadits maupun al-qur-an, karena pemahaman mereka adalah sebaik-sebaik pemahaman, maka hendaknya dia merujuk kitab-kitab <em>syuruuh</em> [penjelasan hadits dan al-qur-an] para ulama yang telah diterima di tengah-tengah umat, hal ini sangat penting, sebab apabila seseorang telah “kecanduan” dalam menelaah dan mengkaji kitab-kitab tersebut, maka tentu akan mewariskan baginya keahlian dalam <em>berkonklusi</em>. Dan sebagaimana kita ketahui, bahwa usia kita terbatas dan tidak cukup untuk mempelajari segala sesuatu, jika kita hanya ingin fokus untuk menghafal, maka habis waktu kita untuk menghafal tanpa ada waktu untuk mengkaji hukum <em>[istimbath]</em> dan memahami yang kita hafal, begitu juga sebaliknya, jika kita hanya fokus untuk memahami dan mengkaji hukum <em>[istimbath]</em> saja, maka akan lenyap waktu untuk hal itu saja tanpa ada waktu untuk menghafal, sebagaimana yang terjadi pada generasi sebelum kita, mereka bukanlah generasi yang gemar menghafal, khususnya generasi yang hidup sebelum 400 tahun yang lalu [4 abad yang lalu]<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>, jika muncul pernyataan tentang mereka [generasi 4 abad sebelum kita] bahwa sangat jarang dari mereka yang menghafal al-qur-an, maka pernyataan tersebut tidaklah salah, dan jika penghafal al-qur-annya saja sedikit, apalagi penghafal hadits, maka kemungkinan besar lebih sedikit. Dan Alhamdulillah, kita hidup di zaman modern, yang mana teknologi berkembang dan sarana-sarana semakin maju, sehingga memudahkan urusan-urusan kita dan sangat membantu dalam merealisasikan cita-cita [menghafal hadits dan mengkajinya], maka pergunakanlah kesempatan emas ini [masa menuntut ilmu] dengan sebaik-baiknya sebelum terlambat dan sebelum kalian disibukkan dengan urusan duniawi. Kesempatan emas yang ada di depan kita tidak ada yang menjamin kelanggengannya, karena waktu terus berputar dan hari-hari senantiasa berubah, keadaan manusia sebelum setengah abad yang lalu [50 tahun yang lalu] sangat berbeda dengan zaman sekarang, mayoritas manusia pada zaman tersebut kesulitan untuk menuntut ilmu disebabkan masalah ekonomi yang menghalangi mereka, dan kalian yang hidup pada zaman sekarang –Alhamdulillah- telah berubah keadaan, sarana-sarana menuntut ilmu telah berkembang, ekonomi juga sudah lebih mapan, maka hal ini bisa membantu kalian untuk lebih fokus dalam menghapal hadits dan mengkajinya, dan juga bisa lebih menyisihkan waktu dan kesempatan untuk menghafal [apalagi dalam usia yang masih muda belia dan belum  terbebani dengan keluarga], sehingga apabila kalian telah menua dan kemampuan hafalan telah menurun serta kesibukan telah menumpuk, maka kalian telah memiliki modal ilmu yang bisa diandalkan.</p>
<p style="text-align:justify;">            Yang kami harapkan dari para ikhwah sekalian adalah memberikan perhatian pada urusan ini, yaitu urusan menghafal al-qur-an dan hadits serta mengkaji kitab-kitab <em>syuruuh</em> [yang berisi penjelasan tentang al-qur-an maupun hadits], kendati sebagian kitab <em>syuruuh</em> sangat panjang sehingga membutuhkan waktu yang amat panjang untuk mengkajinya, bahkan sebagian kitab <em>syuruuh</em> membutuhkan waktu dua tahun untuk dikaji, sebagian penuntut ilmu “menyentuh” kitab <em>syuruuh</em> yang amat panjang tersebut hanya ketika dibutuhkan, jika hanya mendapati kesulitan dalam memahami makna hadits, hal ini sebenarnya juga mendatangkan manfaat, namun jika dia membaca kitab tersebut dengan sempurna, maka dia akan bisa memahami kitab seutuhnya bahkan akan mewariskan keahlian dalam ilmu agama, dan bisa menghafal masalah-masalah yang dikandung oleh kitab tersebut.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">            Inilah petuah dari Fadhilatus Syaikh, semoga kita bisa mengambil manfaat dari wasiat berharga ini, dan mampu membakar semangat kita dalam menuntut ilmu, khususnya ilmu hadits, dan untuk Fadhilatus Syaikh, kami hadiahkan untaian doa, semoga Allah yang maha Rahman dan Rahim senantiasa menjaga beliau, serta memberkahi usia dan ilmu beliau, akhirul kalam, Shalawat dan Salam semoga tercurahkan untuk Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat, kerabat, dan seluruh pengikutnya sampai datangnya hari kiamat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>. Mungkin Fadhilatus Syaikh mengisyaratkan kepada generasi yang hidup di Saudi Arabiyah sebelum 4 abad yang lalu, yang pada masa itu, negeri tersebut belum bernama Saudi Arabiyah, tapi lebih dikenal dengan Najed, wallahu A’lam.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>. Sumber: <a href="http://www.khudheir.com/text/3152">http://www.khudheir.com/text/3152</a>, saham kami dalam artikel ini hanya menterjemahkan, namun ada sedikit penambahan dan pengurangan yang tidak merubah maksud nasehat Fadhilatus Syaikh insya Allah.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/markazassunnah.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/markazassunnah.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/markazassunnah.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/markazassunnah.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/markazassunnah.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/markazassunnah.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/markazassunnah.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/markazassunnah.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/markazassunnah.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/markazassunnah.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/markazassunnah.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/markazassunnah.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/markazassunnah.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/markazassunnah.wordpress.com/312/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=markazassunnah.wordpress.com&amp;blog=7507942&amp;post=312&amp;subd=markazassunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://markazassunnah.wordpress.com/2011/05/22/metode-dalam-menghafal-hadits-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d01f3ca430c180837cffa37105eace3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">markazassunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
