ABU HURAIRAH, SANG PERIWAYAT ISLAM YANG TERDHALIMI (Bagian I)

 

Disusun oleh : Abu Shafa Lukmanul Hakim, Lc al-Jemberiy

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي رسوله الأمين وعلي آله وأصحابه الطاهرين ومن اهتدي بهداهم إلي يوم الدين, أما بعد :

Ikhwah yang dirahmati oleh Allah, diantara salah satu aqidah pokok ahlus sunnah adalah memuliakan para sahabat Rasulullah –shallahu ‘alaihi wa sallam-, menyakini keadilan[1] mereka, serta mensucikan lisan-lisan kita dari mencela, menghina ataupun mengkafirkan mereka, tentunya hal ini berpijak pada dalil yang kuat, baik dari al-Qur’an, as-Sunnah maupun ijma’ dari para ulama kita, Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya: Orang-orang terdahulu lagi yang pertama [masuk islam] dari para Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah meridhoi mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan untuk surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang besar.[2]

Nabi Muhammad –shallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

Artinya: Janganlah kalian mencela para sahabatku, sesungguhnya seandainya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan menandingi [pahala] sedekah mereka [para sahabat] sebesar satu mud bahkan tidak pula separuhnya.[3]

Olehnya, celaan kepada salah satu sahabat Rasulullah merupakan salah satu  tanda bagi kezindikan dan kesesatan seseorang, Abu Zur’ah ar-Rozi [wafat tahun 264 H] –rahimahullah- berkata:

إذا رأيت الرجل ينتقص أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فاعلم أنه زنديق، وذلك أن الرسول صلى الله عليه وسلم عندنا حق، والقرآن حق، وإنما أدي إلينا هذا القرآن، والسنن: أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وإنما يريدون أن يجرحوا شهودنا، ليبطلوا الكتاب والسنة، والجرح بهم أولى وهم زنادقة

Artinya: Jika kamu mendapatkan seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindik[4], hal tersebut disebabkan karena Rasulullah adalah benar, al-Qur’an juga benar, dan sesungguhnya yang menyampaikan kepada kita al-Qur’an dan Sunnah adalah sahabat-sahabat Rasulullah, [sehingga] sebenarnya mereka hendak mencela para saksi-saksi kita, untuk menghancurkan al-Qur’an dan Sunnah, maka sesungguhnya celaan lebih layak dilayangkan kepada mereka, mereka adalah orang-orang zindik.[5]

Ikhwah yang dirahmati oleh Allah, berpijak pada penjelasan di atas maka kami berhasrat untuk membela sahabat-sahabat Nabi Muhammad –shollallahu ‘alaihi wa sallam-, mereka adalah periwayat-periwayat Islam, mata rantai utama dari silsilah sanad hadits-hadits Nabi kita yang tercinta. Dan diantara sekian banyak sahabat Nabi Muhammad, ada seorang yang memiliki perhatian yang luar biasa terhadap hadits-hadits Nabi, mendedikasikan waktunya untuk mempelajari, menghafal serta menyebarkan hadits-hadits tersebut kepada umat, beliau adalah sang periwayat Islam, beliau adalah Abu Hurairah –radiyallahu ‘anhu-. namun sungguh amat disayangkan, usaha yang beliau korbankan, tenaga yang beliau sisihkan, dan hidup yang beliau infakkan demi untuk menghidupkan sunnah Nabi yang tercinta dibalas oleh segelintir dari umat ini dengan celaan-celaan keji, tudingan yang tidak berdasar, bahkan hingga keluar vonis keji dari lisan-lisan dhalim mereka, ibarat sebuah pepatah yang mengatakan, air susu dibalas dengan air tuba, Allahu Musta’an.

Olehnya, kami tegakkan pena ini adalah dalam rangka untuk membela kehormatan sahabat yang mulia tersebut, dan menjelaskan kepada umat hakikat kemuliaan dan keutamaan beliau, serta menyibak sekumpulan syubhat yang dibidikan kepadanya, dan yang lebih penting lagi, goretan ini adalah implementasi dari firman Allah –subhanahu wa ta’ala-:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Artinya: dan orang-orang yang datang setelah mereka [setelah para sahabat], mereka berdoa: Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari pada kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian terhadap ornag-orang yang beriman tumbuh di dalam hati kami, Ya Allah…Engkau maha penyantun lagi maha penyayang.[6]

Ikhwah yang dirahmati Allah, demi untuk memudahkan penyusunan maka artikel ini akan kami bagi dalam beberapa poin, yang pertama: nama dan nasab Abu Hurairoh, yang kedua: proses keislaman dan hijrah Abu Huroiroh, yang ketiga: faktor yang menjadikan beliau banyak meriwayatkan hadits, yang keempat: menjawab syubhat, inilah point-point yang akan kami bahas insya Allah, dan dengan memohon taufiq dari Allah serta InayahNya kami katakan:

 

Pertama: Nama Dan Nasab Abu Hurairah –radhiyallahu anhu-.

Abu Hurairah, adalah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin, terkhusus lagi di tengah para peneliti hadits Rasulullah –shallahu ‘alaihi wa sallam-, bagaimana tidak, nama beliau terulang sebanyak 5374[7] kali di tiap lembar buku-buku hadits para ulama kita, jumlah yang sangat fantastis untuk seorang periwayat hadits, bahkan beliau ditahbiskan sebagai sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadits dari Nabi kita tercinta, namun sekali lagi sungguh amat disayangkan, mayoritas kaum muslimin  tidak mengetahui nama asli dari sahabat yang mulia ini.

Mungkin perlu kita ketahui, bahwa para ulama kita berbeda pendapat mengenai nama sahabat yang mulia ini, hal ini dipicu karena sahabat yang mulia ini lebih masyhur dengan kunyah beliau yaitu Abu Hurairah atau Abu Hir, dan Rasulullah memanggil beliau dengan kedua kunyah tersebut[8], penyebab dari masyhurnya kunyah ini adalah sifat sayang beliau terhadap kucing, sebagaimana yang beliau katakan:”Saya dahulu menggembala kambing milik keluargaku, dan saya memiliki seekor kucing kecil, maka ketika malam tiba saya meletakannya di atas pohon, dan apabila siang menjelang, maka kucing tersebut turun dari pohon dan bermain bersamaku, oleh karena itu mereka memberiku kunyah Abu Hurairah”.[9] sehingga kemudian beliau dikenal dengan kunyah Abu Hurairah. Dan diantara sekian banyak nama yang diperselisihkan, muncul dua nama yang ditarjihkan oleh para ulama kita, yaitu Abdurrahman bin Shokhr ad-Dausi dan ‘Amr bin ‘Amir.

Berkata Ibnu Hajar [wafat tahun 852 H] –rahimahullah- : Abu Hurairah ad-Dausi, seorang sahabat yang mulia dan penghafalnya para sahabat, diperselisihkan namanya dan nama bapaknya, sebagian ulama berpendapat bahwa namanya adalah Abdurrahman bin Shokhr, sebagian yang lain mengatakan bin Ghonm, sebagian yang lain mengatakan Abdullah bin ‘A-idz……

Dan beliaupun [Ibnu Hajar] menegaskan: para ulama berselisih pendapat terkait nama Abu Hurairah yang terkuat, mayoritas ulama merajihkan nama yang pertama [Abdurrahman bin Shokhr], dan sebagian ulama ahli nasab merajihkan ‘Amr bin ‘Amir.[10]

Namun dari dua nama ini, mayoritas ulama condong untuk mentarjih ‘Abdurrahman bin Shokhr ad-dausi.

Berkata imam ad-Dzahabi [wafat tahun 748 H] –rahimahullah-: diperselisihkan namanya dengan banyak pendapat, dan yang  paling rajih [kuat] adalah Abdurrahman bin Shokhr.[11]

Kesimpulannya, nama Abu Hurairah yang ditarjihkan oleh mayoritas ulama adalah Abdurrahman bin Shokhr ad-Dausi, Allahu a’lam.

Kedua: Proses Keislaman Dan Hijrah Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-.

Ikhwah yang dirahmati Allah, Abu Hurairah adalah seorang pemuda dari suku Daus, suku ini berasal dari negeri Yaman, tentunya beliau adalah seorang yang memeluk agama nenek moyangnya sebelum masuk ke dalam agama Islam, adapun tentang keislaman Abu Hurairah, maka ada beberapa riwayat yang sampai kepada kita, diantaranya hadits yang diriwayatkan al-Imam al-Bukhari –rahimahullah-:

أَنَّهُ لَمَّا أَقْبَلَ يُرِيدُ الإِسْلاَمَ وَمَعَهُ غُلاَمُه

Artinya: dan pada saat Abu Hurairah datang [kepada Nabi] bersama budaknya menginginkan Islam.

Ibnu Hajar berkata: dhahir hadits ini mengisyaratkan bahwa Abu Hurairah belum masuk islam [ketika berhijrah].[12]

Dan dalam riwayat yang lain:

لما أقبل أبو هريرة رضي الله عنه ومعه غلامه وهو يطلب الإسلام

Artinya: ketika datang Abu Hurairah bersama budaknya kepada Nabi untuk masuk Islam.[13]

Jika mencermati kedua riwayat di atas, maka niscaya akan terbetik sebuah kesimpulan dalam hati kita bahwa Abu Hurairah belum masuk ke dalam Islam ketika berhijrah dari Yaman ke Madinah, namun jika kita meneliti riwayat-riwayat yang lain, maka ada kemungkinan bahwa beliau telah memeluk Islam sebelum beliau hijrah kepada nabi di Madinah, coba mari kita kaji beberapa riwayat serta perkataan para ulama kita di bawah ini.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani ketika menjelaskan tentang at-Thufail bin ‘Amr ad-Dausi mengatakan:

كَانَ يُقَال لَهُ ذُو النُّور آخِره رَاء ؛ لِأَنَّهُ لَمَّا أَتَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسْلَمَ بَعَثَهُ إِلَى قَوْمه فَقَالَ : اِجْعَلْ لِي آيَة ، فَقَالَ : اللَّهُمَّ نَوِّرْ لَهُ ، فَسَطَعَ نُور بَيْن عَيْنَيْهِ ، فَقَالَ : يَا رَبّ أَخَاف أَنْ يَقُولُوا إِنَّهُ مُثْلَة ، فَتَحَوَّلَ إِلَى طَرَف سَوْطه ، وَكَانَ يُضِيء فِي اللَّيْلَة الْمُظْلِمَة ؛ ذَكَرَهُ هِشَام بْن الْكَلْبِيّ فِي قِصَّة طَوِيلَة ، وَفِيهَا أَنَّهُ دَعَا قَوْمه إِلَى الْإِسْلَام فَأَسْلَمَ أَبُوهُ وَلَمْ تُسْلِم أُمّه ، وَأَجَابَهُ أَبُو هُرَيْرَة وَحْده

Artinya: [at-Thufail bin ‘Amr ad-Dausi] dahulu dijuluki Dzun Nur [yang memiliki cahaya], sebab ketika beliau menghadap Nabi -shallahu ‘alaihi wa sallam- dan kemudian masuk Islam, maka beliau diutus kepada kaumnya, beliau mengatakan kepada Rasulullah: berilah aku ayat [tanda], maka Nabipun berdoa untuknya: Ya Allah  berilah dia cahaya, maka muncullah cahaya diantara kedua matanya, maka Nabipun kembali berdoa: Ya Tuhanku saya khawatir kaumnya mengatakan bahwa cahaya tersebut adalah adzab, maka berpindahlahlah cahaya tersebut di ujung cemetinya, dan cahaya tersebut senantiasa bersinar pada setiap malam yang gelap. Diceritakan oleh Hisyam bin Kalbi dalam sebuah kisah yang panjang bahwa at-Thufail bin Amr menyeru kaumnya kepada islam, maka masuklah bapaknya ke dalam islam sedangkan ibu masih enggan untuk masuk ke dalam islam, dan seruannya hanya diterima oleh Abu Hurairah.[14]

Perlu untuk diketahui bahwa at-Thufail bin Amar ad-Dausi masuk islam ketika Nabi masih berada di Mekah, sebelum beliau berhijrah ke madinah. Oleh karena itu Ibnu Hajar al-Asqalani –rahimahullah- berkesimpulan: riwayat ini menunjukan bahwa masuknya Abu hurairah ke dalam agama islam telah lama [sebelum beliau berhijrah kepada Nabi].[15]

Syaikh Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi [wafat tahun 1386 H] –rahimahullah- mengatakan: berdasarkan riwayat ini, maka proses masuknya Abu Hurairah ke dalam islam adalah sejak sebelum hijrahnya Nabi, Namun beliau terlambat untuk berhijrah hingga perang Khaibar.[16]

Berkata Syaikh Musthofa as-Siba’iy [wafat tahun 1385 H] –rahimahullah- setelah beliau menyebutkan kisah masuknya at-Thufail bin Amr ke dalam islam: riwayat ini dengan gamblang menjelaskan bahwa Abu Hurairah masuk ke dalam agama islam beberapa tahun sebelum hijrahnya beliau kepada Rasulullah pada saat perang Khaibar.[17]

Ikhwah yang dirahmati Allah, setelah pemaparan di atas yang didukung dengan riwayat-riwayat dan perkataan beberapa ulama kita, maka kita bisa memetik kesimpulan bahwa Abu Hurairah telah memeluk agama islam sejak diutusnya sahabat yang mulia at-Thufail bin Amr ke suku Daus, dan beliau telah masuk ke dalam agama islam sejak sebelum hijrahnya nabi ke negeri Madinah, maka Abu Hurairah memeluk agama ini sebelum beliau menghadap kepada Nabi beberapa tahun sebelum akhirnya  menghadap kepada Nabi pada saat perang Khaibar, yaitu pada tahun tujuh hijriyah, wallahu a’lam.

Bersambung insya Allah.

 

 


[1]. Dalam Ulumul Hadits biasanya dikenal dengan istilah al-‘Adaalah, maksudnya ialah sebuah sifat yang membawa seseorang untuk berkomitmen terhadap ketaqwaan dan berhias dengan akhlaq yang mulia.

[2].  At-Taubah ayat 100

[3] . HR Bukhari dan Muslim

[4] . Zindik berasal dari bahasa Persia yang makna asalnya adalah istilah yang digunakan untuk seseorang yang beriman kepada kitab Majusi, namun belakangan istilah ini penggunaannya makin meluas yaitu diistilahkan kepada seseorang yang meragukan atau mengingkari sesuatu dari perkara ad Dien atau yang berkata dengan sebagian perkataan orang kafir. Para ahli Fiqh juga mengistilahkan untuk munafik yang menyembunyikan kekufurannya.

[5] . al-Kifayah fi ‘Ilmir Riwayah  1/85 versi Maktabah Syamilah

[6] . al-Hasyr 10

[7] . Sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Hazm, Ibnu Jauzi dan ad-Dzahabi –rahimahumullah jami’an-, jumlah tersebut berdasarkan Kitab Musnad Baqii bin Makhlad, lihat Majmu-ah Rasa-il Haditsiyah jilid 2 hal 710-711

[8] . Lihat Shohih al-Bukhari 1/391 no hadits: 285 dalam hadits ini beliau dipanggil dengan kunyah Abu Hir, dan lihat juga  9/517 no hadits: 5375, dalam hadits ini beliau dipanggil Abu Hurairah.

[9] . HR Tirmidzi no hadits: 3840, Syaikh Albani mengatakan: sanadnya hasan.

[10] . Taqribut Tahdzib   2/483 versi Maktabah Syamilah

[11] . Siyar A’lamin Nubala  2/578 versi Maktabah Syamilah

[12] . Fathul Bari 7/491 versi Maktabah Syamilah

[13] . Shohih Bukhari 2/895  versi Maktabah Syamilah

[14] . Fathul Bari 12/208 versi Maktabah Syamilah

[15] . Fathul Bari 12/208 versi Maktabah Syamilah

[16] . al-Anwar al-Kasyifah 145

[17] . as-Sunnah Wa Makanatuha Fi Tasyri’ al-Islami 359

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: