ABU HURAIRAH, SANG PERIWAYAT ISLAM YANG TERDHALIMI (Bagian II)

Oleh : Abu Shafa Luqmanul Hakim, Lc

Ketiga: Faktor Yang Menjadikan Beliau Banyak Meriwayatkan Hadits

Pembaca yang budiman, adalah merupakan hal yang aksiomatik bagi kita bahwa untuk meraih sebuah kesuksesan dibutuhkan upaya dan usaha yang tidak kecil, dibutuhkan pula pengorbanan yang tidak bisa dipandang dengan sebelah mata, dan yang lebih urgen dari semua itu adalah curahan taufiq dan hidayah dari Allah –subhanahu wa ta’ala-, inilah sunnatullah yang telah ditetapkan oleh Allah bagi sekalian makhluqNya.

Ilmu merupakan sebuah keutamaan dan kemuliaan, tentunya berdasarkan “kaedah” yang kami telah jelaskan di atas, dibutuhkan kesungguhan dan keletihan dalam menuntutnya, harus dibekali keuletan dan kesabaran bagi yang ingin berhias dengannya, hal ini bukan sesuatu yang aneh bagi para ulama kita, olehnya betapa banyak untaian kata-kata bijak yang keluar dari lisan hikmah mereka, beberapa untaian perkataan di bawah ini adalah buktinya:

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu- berkata:

ذللت طالبا فعززت مطلوبا

Artinya: aku letih ketika menuntut ilmu maka aku mulia dengannya [menjadi tujuan rihlah  para penuntut ilmu].

Berkata Yahya bin Abi Katsir –rahimahullah-: saya mendengar ayahku mengatakan:

لاَ يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْم

Artinya: Ilmu tidak akan bisa diperoleh dengan santai [tanpa capek-capek].[1]

Imam Syafi’i –rahimahullah menegaskan-:

ما أفلح في العلم إلاّ طلبه بالقلّة

Artinya: tidak akan beruntung seorang penuntut ilmu kecuali yang menuntutnya dengan kesengsaraan[2]

Inilah sedikit perkataan para ulama kita, tentunya mereka telah merasakan asinnya garam pengalaman baik dalam kapasitas mereka sebagai penuntut ilmu maupun kapasitas sebagai seorang ulama rujukan umat. Jika kita telah menelaah perkataan-perkataan ulama di atas, maka telah terbetik dalam benak kita sedikit gambaran tentang upaya yang dikeluarkan dan dikorbankan oleh seorang Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, namun demi untuk menyempurnakan faedah, maka kami akan menyebutkan beberapa faktor pemicu “keunggulan” Abu Hurairah dalam bidang periwatan hadits:

1. Kedekatannya Dengan Nabi Dan Senantiasa Berupaya Untuk Bermulazamah Dengan Beliau.

Ikhwah yang dirahmati Allah, inilah salah satu unsur yang menjadi pondasi kuat bangunan keilmuan Abu Hurairah, dan tidak bisa dipungkiri bahwa kedekatan seorang penuntut ilmu dengan sang guru merupakan salah satu pilar tegaknya bangunan ilmu, Imam Syafi’i mewariskan kepada kita salah satu kiat untuk memperoleh ilmu, beliau mengatakan:

وصحبة أستاذ

Artinya: [diantara kiat untuk mendapatkan ilmu adalah] dekat [mulazamah] dengan sang guru.

Inilah salah satu kunci Abu Hurairah untuk membuka khazanah ilmu Nabi kita tercinta,  maka bukanlah suatu hal yang aneh, apabila beliau meriwayatkan kurang lebih 5374 hadits dari Rasulullah, hal ini tentunya membuktikan “kemujaraban” kiat di atas. Dan perlu kita ketahui bahwa kedekatan Abu Hurairah dengan Nabi kita yang mulia bukanlah isapan jempol belaka, namun hal ini adalah sebuah fakta yang ditulis dengan tinta emas oleh sejarah, beberapa riwayat yang valid mengabarkan kepada kita tentang hakikat yang satu ini, olehnya alangkah baiknya jika kita menelaah riwayat demi mengukuhkan hal ini.

Abu Hurairah mengatakan:

إِنَّ النَّاسَ يَقُولُونَ أَكْثَرَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، وَلَوْلاَ آيَتَانِ فِى كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُ حَدِيثًا ، ثُمَّ يَتْلُو ( إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ ) إِلَى قَوْلِهِ ( الرَّحِيمُ ) إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالأَسْوَاقِ ، وِإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الْعَمَلُ فِى أَمْوَالِهِمْ ، وَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِشِبَعِ بَطْنِهِ وَيَحْضُرُ مَا لاَ يَحْضُرُونَ ، وَيَحْفَظُ مَا لاَ يَحْفَظُونَ

Artinya: Sesungguhnya manusia mengatakan: sungguh Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits!!, dan sesungguhnya jika bukan karena dua ayat dalam al-Qur’an niscaya aku tidak akan meriwayatkan sebuah hadits-pun, kemudian beliau membaca firman Allah. (artinya) :”Sungguh, orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan dan petunjuk, setelah Kami tunjukkan kepada manusia dalam kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh orang yang melaknat. kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskannya, mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah maha penerima tobat”[3]. Sesungguhnya saudara-saudara kami dari kalangan muhajirin disibukan dengan perniagaan di pasar, sedangkan saudara kami dari kalangan Anshor disibukan dengan pekerjaan-pekerjaan mereka, sedangkan Abu Hurairah senantiasa melazimi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- dengan kenyangnya perutnya, dan dia menghadiri ta’lim-ta’lim yang tidak dihadiri para sahabat yang lain, dan menghafal hadits-hadits yang tidak dihafal oleh para sahabat yang lainnya.[4]

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim –rahimahullah-, Abu Hurairah mengatakan:

إِنَّكُمْ تَزْعُمُونَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَاللَّهُ الْمَوْعِدُ كُنْتُ رَجُلاً مِسْكِينًا أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى مِلْءِ بَطْنِى وَكَانَ الْمُهَاجِرُونَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالأَسْوَاقِ وَكَانَتِ الأَنْصَارُ يَشْغَلُهُمُ الْقِيَامُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ

Artinya: sesungguhnya kalian menduga bahwa Abu Hurairah terlampau banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-, dan sesungguhnya Allahlah yang menghisab, sesungguhnya aku adalah seorang yang miskin, saya berkhidmah [membantu] Rasulullah untuk mengganjal perutku [menunjukkan semangat yang luar biasa dari Abu Hurairah untuk senantiasa bermulazamah dengan Rasulullah], dan sesungguhnya kaum Muhajirin disibukan dengan perniagaan di pasar, sedangkan kaum Anshar disibukkan dengan pekerjaan mereka.[5]

 

Al-Imam an-Nawawi [wafat tahun 676 H] –rahimahullah- mengatakan mengomentari perkataan Abu Hurairah:”Saya berkhidmah [membantu] Rasulullah untuk mengganjal perutku”.

Beliau mengomentari:

أَيْ أُلَازِمُهُ وَأَقْنَعُ بِقُوتِي ، وَلَا أَجْمَعُ مَالًا لِذَخِيرَةٍ وَلَا غَيْرهَا ، وَلَا أَزِيدُ عَلَى قُوتِي . وَالْمُرَاد مِنْ حَيْثُ حَصَلَ الْقُوت مِنْ الْوُجُوه الْمُبَاحَة ، وَلَيْسَ هُوَ مِنْ الْخِدْمَة بِالْأُجْرَةِ

Artinya: Maksudnya aku senantiasa bermulazamah [menemani] dengan Rasulullah dan berqonaah [merasa cukup] dengan makananku, dan aku tidak mengumpulkan harta untuk menabungnya, dan aku tidak menambah makananku. Maksudnya adalah mendapatkan rejeki dari pekerjaan yang mubah, dan bukan mengambil upah dari membantu Nabi.[6]

Dan yang lebih mengagumkan lagi, kedekatan Abu Hurairah dengan Nabi Muhammad adalah merupakan rahasia umum para sahabat Nabi, oleh sebab itu bukanlah suatu hal yang aneh jika lisan para sahabat mentaqrir bahwa beliau adalah sosok yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad, perhatikanlah!! Lisan mulia Thalhah bin Ubaidillah –radhiyallahu ‘anhu- menepis “syubhat” yang datang dari seseorang, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Katsir [wafat tahun 774 H] dengan sanadnya:

عن أبي اليسر بن أبي عامرقال: كنت عند طلحة بن عبيد الله إذ دخل رجل فقال: يا أبا محمد والله ما ندري هذا اليماني أعلم برسول الله صلى الله عليه وسلم منكم، أم يقول على رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم يسمع، أو ما لم يقل ؟, فقال طلحة : والله ما نشك أنه قد سمع من رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم نسمع، وعلم ما لم نعلم، إنا كنا قوما أغنياء، لنا بيوتات وأهلون، وكنا نأتي رسول الله صلى الله عليه وسلم طرفي النهار ثم نرجع، وكان هو مسكينا لا مال له ولا أهل، وإنما كانت يده مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكان يدور معه حيث ما دار، فما شك أنه قد علم ما لم نعلم وسمع ما لم نسمع.

Artinya: Dari Abu Yusr bin Abi ‘Amir, beliau berkata: saya bersama Thalhah bin ‘Ubaidillah tiba-tiba muncul seorang seraya bertanya: wahai Abu Muhammad, kami merasa heran dengan orang Yaman ini [maksudnya Abu Hurairah], bagaimana bisa dia lebih banyak meriwayatkan hadits daripada anda?? Apakah meriwayatkan hadits yang tidak dia dengarkan dari nabi??. Maka Thalhah-pun mengatakan: Demi Allah, kami tidak meragukan bahwa beliau [Abu Hurairah] telah mendengarkan dari Rasulullah hal-hal yang tidak kami dengarkan, dan mengetahui sesuatu yang kami tidak mengetahuinya, sesungguhnya kami dahulu kaum yang kaya, kami memiliki rumah-rumah dan keluarga, dahulu kami mendatangi Nabi tiap pagi dan petang kemudian pulang ke rumah, sedangkan Abu Hurairah orang miskin, beliau tidak memiliki harta maupun keluarga, sesungguhnya tangannya dahulu senantiasa bersama tangan Nabi dan selalu mendampingi Nabi di manapun beliau berada, maka tidak bisa dipungkiri jika kemudian beliau mengetahui hal-hal yang tidak kami ketahui, dan mendengarkan hadits-hadits yang tidak kami dengarkan.[7]

Bahkan dengan hati terbuka, lisan bijak Abdullah Bin Umar [wafat tahun 73 H] mengatakan kepada Abu Hurairah:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْتَ كُنْتَ أَلْزَمَنَا لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَحْفَظَنَا لِحَدِيثِهِ

Artinya: Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya engkau dahulu adalah yang paling dekat dengan Rasulullah diantara kami, dan juga yang paling banyak menghafal hadits-hadits Nabi Muhammad diantara kami.[8]

Dan yang lebih menakjubkan lagi, seorang Abu Ayub al-Anshari –radhiyallahu ‘anhu- [wafat tahun 50 H atau setelahnya] tidak berkeberatan meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, ketika ditanya tentang hal tersebut beliau mengatakan:

إن أبا هريرة قد سمع ما لم نسمع

Artinya: sesungguhnya Abu Hurairah telah mendengarkan dari Rasulullah hal-hal yang kami tidak  mendengarkannya.[9]

Dan sebagai pamungkas, bukanlah hal yang aneh jika Abu Hurairah senantiasa bersama dengan Nabi dan mendampingi beliau dalam banyak keadaan, karena beliau adalah salah seorang Ahlus Shuffah.[10]

 

2. Ketekunan Dan Kerajinan Abu Hurairah Dalam Mempelajari Hadits

Ikhwah yang dirahmati Allah, adalah merupakan rahasia umum bahwa ketekunan, kerajinan dan keuletan dalam menuntut ilmu adalah kunci sukses untuk memperoleh khazanah ilmiyah yang luas, salah satu buktinya adalah sahabat yang mulia Abu Hurairah. Beliau dengan penuh sukarela berlapar ria, tekun dan ulet dalam mengejar ilmu, dan tentunya dibarengi “segudang” kesabaran untuk menuntut ilmu dari Rasulullah, beliau dengan ikhlas meninggalkan perniagaan dan pekerjaan, berhias dengan sifat qonaah dalam masalah dunia demi memperoleh warisan hadits Rasulullah –shallahu ‘alaihi wasallam-, tidak memelihara mata iri dan hati dengki terhadap sahabat-sahabat yang lainnya yang sibuk dengan pekerjaan mereka, intinya adalah beliau mendedikasikan waktu, tubuh, semangat, fokus dan konsentrasi untuk menimba ilmu dari Rasulullah, maka tidak heran bila lisan mulia Nabi kita sempat mentazkiyah  ketika beliau bertanya tentang sesuatu, sebagimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari[11]:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لاَ يَسْأَلَنِى عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

Artinya: Wahai Rasulullah, siapakah yang paling bahagia untuk mendapatkan syafaatmu pada hari kiamat kelak??, maka Rasulullah berkata: sungguh aku telah mengira wahai Abu Hurairah, bahwa tidak akan ada seorangpun mendahului engkau untuk bertanya kepadaku tentang hadits ini, karena aku telah melihat semangatmu yang besar untuk mempelajari hadits. sesungguhnya orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat kelak adalah semua yang mengucapkan kalimat “Laa Ilaha Illallah” dengan penuh keikhlasan.

Pembaca yang budiman, inilah salah satu tazkiyah yang keluar dari lisan ma’shum Nabi kita yang tercinta kepada Abu Hurairah, sehingga dengan penuh keyakinan kita katakan bahwa Abu Hurairah adalah salah seorang sahabat yang paling semangat untuk mempelajari hadits-hadits Nabi.

 

3. Do’a Nabi Untuk Abu Hurairah

Inilah puncak keutamaan Abu Hurairah, dan salah satu kunci terpenting dari kemampuan ilmiyah Abu Hurairah, yaitu kemampuan hafalan Abu Hurairah yang luar biasa, yang merupakan buah dari mukjizat kenabian, beliau adalah penghulu para penghafal, sang periwayat islam, olehnya jangan heran bila Imam Bukhari [wafat tahun 256 H] mengatakan bahwa jumlah perawi dari kalangan tabi’in yang meriwayatkan hadits dari beliau mencapai 800 orang!!. Kemukjizatan hafalan Abu Hurairah bukanlah kabar burung belaka, akan tetapi sebuah fakta sejarah yang terpahat di dinding-dinding waktu, perhatikanlah dengan seksama wahai saudaraku!, hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari di bawah ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنِّى أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنْسَاهُ . قَالَ « ابْسُطْ رِدَاءَكَ » فَبَسَطْتُهُ . قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ « ضُمُّهُ » فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ

Artinya: Dari Abu Hurairah, beliau berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengarkan hadits yang banyak darimu, namun aku melupakannya. Maka Rasulullah mengatakan: hamparkanlah selendangmu!!, maka aku hamparkan selendangku, maka Nabi mengambilnya dengan tangannya, kemudian beliau bersabda: peluklah selendangmu!!, maka akupun memeluklnya, dan aku tidak lupa sedikitpun setelah itu.[12]

Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim [wafat tahun 261 H] dari sahabat Abu Hurairah:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ يَبْسُطُ ثَوْبَهُ فَلَنْ يَنْسَى شَيْئًا سَمِعَهُ مِنِّى ». فَبَسَطْتُ ثَوْبِى حَتَّى قَضَى حَدِيثَهُ ثُمَّ ضَمَمْتُهُ إِلَىَّ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا سَمِعْتُهُ مِنْهُ

Artinya: Rasulullah bersabda: barang siapa yang menghamparkan pakaiannya maka tidak akan melupakan apa yang dia dengarkan dariku, maka aku hamparkan pakaianku hingga selesai perkataan beliau kemudian aku peluk [pakaian tersebut] maka akupun tidak melupakan hadits yang aku dengarkan darinya.[13]

Dan dalam riwayat Imam al-Hakim [wafat tahun 405 H], an-Nasa-i [wafat tahun 303 H] dan yang lainnya, menceritakan bahwa di suatu waktu Zaid bin Tsabit [wafat tahun 45 atau 48 H, dan sebagian ulama mengatakan setelah tahun 50 H], Abu Hurairah serta seorang sahabat yang lainnya, berdo’a di hadapan Nabi Muhammad, Zaid bin Tsabit dan seorang sahabat yang lain berdo’a terlebih dahulu dan Nabi mengamini do’a mereka, lalu Abu Hurairah-pun berdoa kepada Allah dan mengucapkan:

اللهم إني أسألك مثل الذي سألك صاحباي هذان ، وأسألك علما لا ينسى

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu seperti yang dimohon kedua saudaraku tadi, dan berilah aku ilmu yang tidak terlupakan.[14]

Inilah riwayat yang valid tentang doa Nabi untuk Abu Hurairah, olehnya bukanlah hal yang aneh jika para ulama memuji Abu Hurairah terkhusus dalam masalah kekuatan hafalan, berikut ini beberapa contoh dari pujian para ulama kepada Abu hurairah:

Imam Syafi’i [wafat tahun 204 H] mengatakan: Abu Hurairah adalah perawi yang paling hafal hadits pada masanya.[15]

Ad-Dzahabi [wafat tahun 748 H] mengatakan: [Abu Hurairah] adalah penghulu para penghafal.[16]

Beliau juga mengatakan: hafalan Abu Hurairah yang luar biasa adalah buah dari mu’jizat kenabian.[17]

Oleh karena itu Ibnu Hajar [wafat tahun 852 H] menukil ijma’ bahwa Abu Hurairah adalah sahabat yang terbanyak menghafal hadits Nabi, beliau mengatakan: sungguh ahli hadits telah bersepakat bahwa Abu hurairah adalah sahabat yang paling banyak menghafal hadits Nabi.[18]

Dan demi menentramkan hati para ikhwah sekalian terkait hal ini [kekuatan hafalan Abu Hurairah], maka mungkin perlu kami tegaskan bahwa kemampuan hafalan Abu Hurairah telah teruji, hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Hakim [wafat tahun 405 H] dalam al-Mustadrak dengan sanadnya kepada Abu Zu’aizi’ah –sekretaris Marwan Bin Hakam-, bahwa khalifah Marwan bin Hakam memanggil Abu Hurairah, dan khalifah memerintahkan aku duduk di belakang singgasana, maka kemudian khalifah mulai bertanya tentang hadits-hadits dan akupun mulai menulisnya ke dalam catatanku. Kemudian setelah satu tahun berselang dari kejadian tersebut, khalifah memanggil Abu Hurairah kembali, dan beliau memerintahkan agar aku [Abu Zu’aizi’ah] duduk di belakang tirai, maka khalifahpun mulai bertanya tentang hadits yang ditanyakan tahun lalu, dan aku mulai memeriksa catatanku, ternyata Abu Hurairah tidak meleset meskipun satu huruf[19], Ya Salaam.

Keempat: Menjawab Syubhat

Sungguh sangat ironis, meskipun para ulama kita dari masa ke masa telah memaparkan dengan gamblang tentang kehidupan ilmiyah Abu Hurairah, telah menjelaskan keuletan, kerajinan dan pengorbanan beliau dalam menuntut hadits-hadits Nabi, bahkan telah tegak konsensus [ijma’] para ulama tentang kuatnya hafalan dan banyaknya jumlah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, namun lisan-lisan dhalim para musuh-musuh islam tetap melontarkan celaan, makian bahkan vonis dusta kepada keadilan beliau, mereka menguntit riwayat-riwayat yang lemah dan menebarkannya di tengah kaum muslimin, atau jika tidak menemukan riwayat-riwayat tersebut maka mereka memanipulasi riwayat atau menggelapkan sebagian riwayat demi untuk merealisasikan tujuan mereka yang keji, yaitu menjegal riwayat-riwayat Abu Hurairah. Dan tidaklah Abu Hurairah dicela, dihina, bahkan dituduh berdusta atas nama Nabi kecuali karena beliau menghidupkan sunah-sunah Nabi Muhammad yang tercinta, dan banyak mengajarkan warisan kenabian kepada generasi yang setelahnya, satu fakta yang perlu kita ungkap, bahwa tidaklah kelompok-kelompok sesat dari kalangan ahlul bid’ah menghidupkan syubhat tentang Abu Hurairah di tengah-tengah umat kecuali dikarenakan Abu Hurairah meriwayatkan hadits yang menyelisihi aqidah dan pemahaman mereka, maka geramlah mereka dan mencoba membalas dengan mencela sahabat Abu Hurairah dan riwayat-riwayatnya.

Pada point ini kami akan membantah sedikit syubhat yang ditebarkan musuh-musuh islam mengenai Abu Hurairah.

 

Syubhat Pertama: Abu Hurairah Terlampau Banyak Meriwayatkan Hadits, Padahal Beliau Bermulazamah Dengan Nabi Cuma 3 Tahun Lebih, Sedangkan Sahabat Seperti Abu Bakar Dan Umar Telah Menemani Nabi Sejak Di Makkah.

Bantahan:

Kami akan bantah syubhat ini dengan beberapa point:

1.      Sebagaimana yang telah kami jelaskan, bahwa Abu Hurairah menemui Nabi pada tahun 7 hijriyah, dan sejak saat itu beliau senantiasa mendampingi Nabi dimanapun beliau berada. Realita ini berbeda dengan sebagian sahabat yang lainnya, mereka tidak menjumpai Nabi tiap waktu disebabkan kesibukan mereka dalam mencari rizki.

2.      Abu Hurairah mendedikasikan segenap jiwa dan raganya untuk berkhidmah kepada hadits-hadits Nabi, dan mengajarkannya kepada umat, beliau tidak disibukan dengan hiruk pikuk politik dan ataupun urusan negara. Hal ini berbeda dengan sebagian sahabat terdekat dari Nabi seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat-sahabat yang lainnya, Abu Bakar sibuk menjadi khalifah, demikian pula Umar, Utsman dan Ali –radhiyallahu ‘anhum-, maka hal ini tentunya –sedikit ataupun banyak- mempengaruhi konsentrasi mereka untuk mempelajari dan mengajarkan hadits-hadits Rasulullah.

3.      Disamping Abu Hurairah mendedikasikan segenap potensinya untuk mengkhidmah hadits-hadits Nabi, beliau juga diberikan usia yang cukup panjang setelah wafatnya Nabi, beliau wafat pada tahun 57 atau 58 H, sehingga beliau mengembangkan ilmunya [misalnya upaya beliau untuk meriwayatkan hadits dari sahabat yang lain yang tidak sempat didengar oleh beliau dari Rasulullah] dan mengajarkan kepada umat ini. Hal ini berbeda dengan sebagian sahabat-sahabat yang lebih dahulu bermulazamah dengan Nabi, selain mereka disibukan dengan urusan yang besar, seperti mencari rizki, urusan pemerintahan dan lain sebagainya, mereka juga tidak hidup lama setelah wafatnya Nabi, misalnya sahabat yang mulia Abu Bakar as-shiddiq  wafat pada tahun 13 H, Umar wafat pada tahun 23 H, Utsman bin ‘Affan wafat pada tahun 35 H, dan Ali bin Abi Thalib wafat pada tahun 40 H.

4.      Diantara masalah yang perlu dipahami, bahwa Abu Hurairah tidaklah bersendirian dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah, namun mayoritas hadits yang beliau riwayatkan, diriwayatkan pula oleh sahabat-sahabat yang lain, tentunya fakta ini menepis tuduhan bahwa Abu Hurairah berdusta atas nama Nabi yang tercinta. Marilah kita menelaah contoh berikut ini:

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Artinya: Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Namun perlu diketahui bahwa selain Abu Hurairah masih banyak sahabat lain yang meriwayatkan hadits di atas, contohnya: Ali bin Abi Tholib, Anas bin Malik, Mughiroh bin Syu’bah radhiyallohu ‘anhum kesemuanya terdapat dalam Bukhari dan Muslim, yang diriwayatkan oleh imam Bukhari saja dari Zubair bin Awwam, Salamah bin Akwa’ dan Abdullah bin Amr bin al ‘Ash, adapun sahabat Abdullah bin Mas’ud dalam riwayat Tirmidzi, Nasaai dan Ibnu Majah. Imam Ibnu Majah bersendiri dalam meriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah, Abu Qatadah dan Abu Sa’id Al Khudri radhiyallohu ‘anhum [20]

Ikhwah yang dirahmati Allah, beberapa ulama yang berupaya mengkaji jumlah hadits yang hanya diriwayatkan oleh Abu Hurairah saja tanpa dukungan sahabat yang lain, adalah Prof. Dr. Dhiyaurrahman al-A’dhami salah satunya, beliau berkesimpulan bahwa jumlah hadits yang hanya diriwayatkan oleh Abu Hurairah tidak melebihi 300 hadits[21]. Tentunya angka yang yang disebutkan oleh Prof. Dr. Dhiyaurrahman al-A’dhami sangatlah lumrah bagi seorang periwayat sekaliber Abu Hurairah, jika kita menilik rekam jejak Abu Hurairah dalam perhelatan periwayatan hadits sebagaimana yang telah kami jelaskan diatas, ditambah lagi jumlah durasi waktu kebersamaan Abu Hurairah dengan Rasulullah –shallahu ‘alaihi wasallam- yang sangat  masuk akal untuk meriwayatkan hadits dalam jumlah tersebut, sebagaimana yang kami sebutkan bahwa Abu Hurairah berhijrah kepada Nabi pada saat perang Khaibar pada tahun 7 H, dan Rasulullah wafat pada awal tahun 11 H, jadi durasi waktu kebersamaan Abu Hurairah dengan Rasulullah minimal 3 tahun, dan jika kita konversikan menjadi hari maka kebersamaan beliau dengan Nabi minimal 1000 hari, taruhlah setiap hari Abu Hurairah meriwayatkan satu hadits saja dari Nabi, maka niscaya beliau akan menghafal minimal 1000 hadits, adapun hadits-hadits yang lainnya beliau meriwayatkannya bersama dukungan sahabat yang lainnya.

5. Hal lain yang perlu pahami, agar kita tidak mencela Abu Hurairah dengan membabi buta, bahwa jumlah 5374 hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah adalah jumlah dengan sanad yang terulang[22], untuk lebih jelasnya, mari kita telaah contoh dibawah ini:

Sabda Rasulullah:

لا تسبّوا أصحابي

Artinya: Janganlah kalian mencela para sahabatku

Hadits ini memiliki 27 periwayatan dalam  buku-buku hadits para ulama, nah dari jumlah tersebut 5  periwayatan diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

Contoh lain, sabda Rasulullah:

والحج المبرور ليس له الجزاء إلاّ الجنة

Artinya: Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali sorga

Adapun hadits ini, maka memiliki 34 riwayat dalam buku-buku Hadits, dan 29 riwayat diantaranya diriwayatkan oleh Abu Hurairah.[23]

 

Syubhat Kedua: Abu Hurairah mengatakan: Tidak ada seorangpun dari sahabat Rasulullah yang paling banyak meriwayatkan hadits dari beliau kecuali Abdullah Bin ‘Amr bin ‘Ash, karena dia menulis hadits sedangkan aku tidak menulis[24].

Abu Hurairah sendiri mengakui Bahwa dia bukan sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah, namun faktanya jumlah hadits Abu Hurairah lebih banyak daripada jumlah hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amr bin Ash.

Bantahan:

v  Kalimat Abu Hurairah yang kami garis bawahi merupakan fakta yang ingin beliau sampaikan kepada kita, bahwa Abdullah bin Amr bin Ash memiliki keistimewaan –dibandingkan beliau- berupa banyaknya hadits yang beliau tulis dari Rasulullah[25], namun dari sisi periwayatan hadits maka Abu Hurairah lebih banyak daripada riwayat Abdullah bin Amr, sebagaimana yang beliau tegaskan sendiri di awal perkataannya.[26]

v  Sesungguhnya Abdullah bin Amr bin Ash adalah seorang sahabat yang lebih dikenal dalam sisi ibadahnya daripada dalam bidang hadits, beliau termasuk ahli ibadah dikalangan para sahabat, hal ini karena kecenderungan Abdullah bin Amr bin Ash dalam masalah ibadah lebih besar daripada masalah yang lain, bahkan istrinyapun sempat mengeluhkan kecenderungan tersebut karena merasa diabaikan oleh sahabat yang mulia ini. Kecenderungan inilah yang menjadi faktor minimnya riwayat hadits beliau dari Rasulullah, meskipun unggul dalam hal penulisan hadits.

v   Seungguhnya Abdullah bin Amr bin Ash lebih banyak tinggal di Mesir dan Thaif daripada tinggal di Mekah dan Madinah, hal ini berpengaruh kepada periwayatan hadits, karena rihlah [perjalanan menuntut ilmu] ke Mesir dan Thaif relatif lebih sedikit daripada rihlah para ulama kita ke Madinah dan Mekah, sedangkan Abu Hurairah lebih banyak tinggal di Madinah daripada tinggal di tempat yang lain, fakta inilah yang menjadikan Abu Hurairah menjadi rujukan dalam bidang hadits, bahkan Imam al-Bukhari mengatakan bahwa jumlah Tabi’in[27] yang meriwayatkan dari Abu Hurairah mencapai 800 orang.

v  Sesungguhnya Abdullah bin Amr bin Ash adalah salah seorang sahabat yang sempat mempelajari buku-buku ahlul kitab, bahkan meriwayatkan sebagian diantaranya, fakta ini adalah salah satu faktor yang menyebabkan sebagian Tabi’in merasa “enggan” untuk meriwayatkan hadits dari beliau, radhiyallahu anhu, wallahu a’lam.[28]

 

Syubhat Ketiga: Telah sampai kepada kita beberapa riwayat yang mengabarkan bahwa para sahabat menuduh Abu Hurairah berdusta atas Rasulullah, diantara riwayat tersebut adalah perkataan Umar bin Khatthaab kepadanya: “Wahai Abu Hurairah, kamu terlalu banyak meriwayatkan hadits, sesungguhnya saya mencurigaimu berdusta atas Rasulullah”.

Tanggapan:

v  Syubhat di atas adalah salah satu senjata Abu Rayyah untuk mencela Abu Hurairah dalam bukunya Adhwa-u Alas Sunnah Muhammadiyah, dia menukil riwayat di atas dari kitab Nahjul Balaghah karya Ibnu Abil Hadid dan dia menceritakan dari Abu Ja’far al-Iskaf dengan tanpa sanad, kedua orang ini sangat masyhur sebagai tokoh kelompok Mu’tazilah dan Rafidhah yang akidahnya adalah mengkafirkan para sahabat, bahkan buku-buku Rafidhah sarat dengan hujatan kepada Abu Bakar, Umar, Aisyah, Utsman dan para sahabat yang lainnya dengan tanpa sanad. Maka riwayat di atas merupakan riwayat yang tidak berdasar karena dua hal:

Pertama: diriwayatkan oleh ahlul bid’ah yang pokok aqidahnya mencela, menyesatkan bahkan memvonis kafir para sahabat.

Kedua  : Riwayat tersebut tidak bersanad, maka riwayat di atas Munqothi’ [terputus sanadnya]. Jika para ulama kita tidak menerima riwayat-riwayat munqothi’ yang datang dari para ulama besar ahlus sunah, maka apatah lagi yang datang dari tokoh ahli bid’ah.[29]

v  Bagaimana mereka [orang-orang rafidhah] berhujjah dengan perkataan Umar bin Khatthab terhadap Abu Hurairah, sedangkan menurut mereka Umar bin Khatthab telah murtad dari islam??? Yang konsekwensinya adalah menolak segala periwatan darinya.

v  Apakah bisa kita cerna dengan akal sehat kita??, dalam kitab al-Ishabah[30] karya Ibnu Hajar, beliau meriwayatkan bahwa Umar bin Khatthab pernah menunjuk Abu Hurairah menjadi amil [petugas] di wilayah Bahrain, namun beliau menolak penawaran tersebut. penawaran ini tentunya membuktikan kepercayaan seorang Umar kepada beliau, maka bagaimana kita akan menerima riwayat dari Ibnu Abil Hadid yang menunjukan ketidakpercayaan Umar kepada Abu Hurairah???, dan ini tentunya menunjukan kelemahan dari riwayat di atas.

Ikhwah yang dirahmati Allah, inilah pembahasan ringkas tentang Abu Hurairah, sahabat yang mulia dan sang periwayat islam, harapan kami semoga dengan pembahasan yang sedikit ini, bisa memberikan faedah ilmiyah kepada kita semuanya, sehingga kita tidak mudah terjebak dalam syubhat beracun tentang sahabat yang mulia ini. Dan akhirnya sebongkah keyakinan terukir dalam sanubari kami, bahwa segala celaan, hujatan, tuduhan dusta atas sahabat yang mulia ini adalah karunia Ilahi yang maha mengasihi lagi menyayangi, demi untuk menganulir dosa-dosa beliau serta mengangkat derajat beliau di surga kelak, semoga Allah yang maha Rahman dan Rahim mengumpulkan kita dengan para periwayat islam di surgaNYA.

وصلي الله علي نبينا محمد وعلي آله وأصحابه ومن اهتدي بهداهم إلي يوم الدين

 

 


[1] . Shohih Imam Muslim  2/105

[2] . Kitab Majmu’ Syarh Muhadzab karya Imam Nawawi  hal 40

[3] . al-Baqarah 159-160

[4] . Shohih Bukhari 1/213

[5] . al-Minhaj Syarh Shohih Muslim bin Hajjaj karya an-Nawawi 8/261

[6] . al-Minhaj Syarh Shohih Muslim bin Hajjaj karya an-Nawawi 8/261

[7] . al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir 8/117

[8] . Tuhfatul Ahwadzi 9/268, Syaikh Albani mengatakan: hadits ini isnadnya shahih

[9] . al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir 8/117

[10] . Orang yang tinggal di Masjid Nabawi

[11] . Shahih Bukhari 1/185

[12] . Shahih Bukhari 1/214

[13] .  Shahih Muslim

[14] . al-Mustadrak karya al-Hakim 14/237 versi Maktabah Syamilah

[15] .al-Ishobah 3/512

[16]. Siyar A’lamun Nubala 2/578

[17] . Siyar A’lamun Nubala 2/594

[18] . al-Ishobah 4/202

[19] . al-Mustadrak karya Imam al-Hakim 3/510, beliau mengatakan: hadits ini sanadnya shahih, dan Imam ad-Dzahabi menyepakatinya

[20] Hadits ini diriwayatkan tidak kurang dari 70 sahabat selain Abu Hurairah, lihat kitab Qathful Azhar al Mutanatsiroh fil Akhbar Al Mutawatiroh oleh Imam Suyuthi

[21] . Lihat Abu Hurairah fi Dhau-i Marwiyatihi hal. 132, menukil dari Mamu’atur Rasa-il al-Haditsiyah karya Ali Ridha bin Abdillah 710, menurut beliau angka yang beliau sebutkan di atas belumlah final, masih ada kemungkinan bertambah.

[22] . Lihat al-Ba’iits al-Hatsiits Syarh Ikhtishor Ulumul Hadits yang ditahqiq Syaikh Ahmad Syakir hal 188

[23] .Lihat Majalah Qiblati edisi 10 tahun 4, 7-1430 H/07-2009 M

[24] . Shahih al-Bukhari yang dicetak dengan Fathul Barii 1/206

[25] . Bahkan salah satu shahifah [lembaran hadits] yang amat masyhur di masa sahabat adalah as-Shahifah as-Shadiqah milik Abdullah bin Amr bin Ash

[26] . Silahkan lihat penjelasan Ibnu Hajar terkait hadits ini dalam kitab Fathul Barii 1/206

[27] . orang yang berjumpa dengan sahabat dan beriman kepada kenabian serta meninggal dalam keadaan tersebut.

[28] . Silahkan melihat penjelasan ini dalam Fathul Baarii Syarh Shohih al-Bukhari 1/207

[29] . Untuk lebih jelasnya silahkan melihat al-Anwar al-Kasyifah karya Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimii, hal. 152-153.

[30] . Silahkan merujuk al-Ishabah 4/210

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: