UNGKAPAN YANG SERING DIANGGAP HADITS

UNGKAPAN YANG SERING DIANGGAP HADITS

Oleh : Abu Shofwan Maulana Laeda, Lc

(Mahasiswa S-2 di Universitas Islam Medinah, Jurusan ‘Ulum             Al Hadits)

    Bismillahirrahmaanirrahim… Semoga shalawat serta salam tercurahkan atas nabi kita Muhammad , keluarga ,dan segenap sahabatnya, amin.

Tulisan ini berasal dari beberapa catatan pribadi tatkala membaca sebuah kitab yang berjudul “Al Jaddul Hatsis Fi Bayani maa laisa bihadits ” yang disusun oleh salah seorang ulama hadis abad-12 H yang bernama Syaikh Ahmad bin Abdulkarim al ‘Amiri Al Ghazzi rahimahullah yang wafat pada tahun  1143 H. Kitab tersebut mencakup banyak ucapan yang sering dianggap oleh sebagian muslim sebagai sebuah hadis. Ketika membaca kitab ini, saya memilah beberapa catatan ungkapan darinya, dan diantara catatan tersebut adalah sebagaimana yang tertera dibawah ini dengan menyertakan halaman dan nomor hadis yang saya nukilkan dari kitab tersebut. Semoga bermanfaat ,amin. Baca lebih lanjut

Iklan

HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU SEPUTAR BULAN SYA’BAN(1)

Di tengah masyarakat kita beredar banyak hadits-hadits lemah dan palsu seputar keutamaan ibadah pada bulan Sya’ban. Hadits-hadits tersebut menyebar lewat berbagai cara. Mulai dari ceramah para khathib, tulisan di buku, majalah, situs, blog, jejaring sosial, hingga sms. Berikut ini kami tuliskan contoh kecil dari sebagian hadits lemah dan palsu tersebut  agar diketahui bersama oleh kaum muslimin.

Hadits-hadits tentang puasa sunah di bulan Sya’ban

Hadits pertama

 عن عائشة رضي الله عنها عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : [ شعبان شهري ورمضان شهر الله وشعبان المطهر ورمضان المكفر] .

Dari Aisyah radhiyallohu anha dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan Allah. Sya’ban adalah (bulan) yang mensucikan dan Ramadhan adalah bulan yang menghapuskan (dosa-dosa).”

Keterangan : Ini adalah hadits palsu. Imam Al-‘Ajluni berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Dailami dari Aisyah secara marfu’. Ibnu Al-Ghars berkata: Guru kami berkata hadits ini dha’if. (lihat: Kasyful Khafa’ wa Muzilul Ilbas, juz 2 hlm. 13 no. 1551).

Imam Al-Munawi berkata dalam Faidhul Qadir Syarh Jami’ Shaghir : “Di dalam sanadnya ada Hasan bin Yahya Al-Khusyani. Imam Adz-Dzahabi berkata: Imam Ad-Daraquthni mengatakan ia perawi yang matruk (ditinggalkan haditsnya). Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani melemahkannya dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 3402.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq dan Ad-Dailami dari Aisyah secara marfu’ dengan lafal: ”Bulan Ramadhan adalah bulan Allah dan bulan Sya’ban adalah bulanku. Sya’ban adalah (bulan) yang mensucikan dan Ramadhan adalah (bulan) yang menghapuskan (dosa-dosa).” Sanadnya sangat lemah sebagaimana dijelaskan oleh syaikh Al-Albani dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 34119. Baca lebih lanjut

HADITS-HADITS DHA’IF DAN MAUDHU’ SEPUTAR BULAN RAJAB

HADITS-HADITS DHA’IF DAN MAUDHU’ SEPUTAR BULAN RAJAB

Hadits Pertama :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ رَجَب قَالَ : « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ «

Dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu adalah Nabi shallallohu alaihi wa sallam jika sudah berada di bulan Rajab, beliau berdoa: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan

Takhrij :

Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa imam di kitab hadits mereka, diantaranya :

  1. Imam Thabrani di Al Mu’jam Al Ausath (4/189) dan di kitab Ad Du’a (1/284); lafal hadits di atas sebagaimana yang beliau riwayatkan di Al Ausath
  2. Imam Ahmad di Musnad; Kitab Musnad Bani Hasyim, Bab Bidayah Musnad Abdullah bin Abbas (2342), akan tetapi beliau meriwayatkan dengan lafazh: “…wa baarik lanaa fi Ramadhan
  3. Baihaqi di Syu’abul Iman (3/375) dan di kitab Fadhoil Al Awqat (1/105)
  4. Bazzar di Musnadnya (2/290)
  5. Ibnu As Sunni di Amal Al Yaum wal Lailah
  6. Abu Muhammad Hasan bin Muhammad Al Khallal di Fadhlu Rajab (no.1)

Keterangan :

Dalam sanad hadits ini ada dua perowi yang lemah;

Pertama : Zaidah bin Abu Ruqad Al Bahili; dia seorang yang munkarul hadits (haditsnya mungkar) sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Bukhari, Nasai, dan Al Hafizh Ibnu Hajar. Abu Hatim Ar Rozi mengatakan, “Dia meriwayatkan dari Ziyad An Numairi dari Anas bin Malik hadits-hadits yang marfu’ namun mungkar…”.  Ibnu Hibban di kitabnya Al Majruhin menerangkan, “Dia meriwayatkan hadits-hadits yang mungkar dari perawi-perawi yang terkenal

Kedua : Ziyad bin Abdullah An Numairi dia juga seorang yang dinilai lemah oleh Imam Yahya Bin Ma’in, Abu Daud dan Al Hafizh Ibnu Hajar. Abu Hatim berkata : “Haditsnya boleh ditulis namun tidak dijadikan sebagai hujjah”.

Hadits Kedua : Baca lebih lanjut

HADITS-HADITS DHOIF YANG POPULER DI BULAN SUCI RAMADHAN

Ramadhan adalah bulan yang mulia, momen yang tepat untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya dari Rabb Yang Maha Pemurah. Pada bulan ini jiwa dan hati para hamba Allah menjadi tunduk dan lembut untuk melakukan berbagai macam ibadah yang disyariatkan. Karena itu sepatutnya para ustadz, da’i, muballigh dan setiap kita memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini. Namun demikian ada fenomena sangat menyedihkan yang sering terjadi di bulan suci ini yaitu tersebarnya hadits-hadits yang lemah melalui mimbar-mimbar mesjid dan majelis-majelis ta’lim. Hal ini banyak disebabkan karena kurangnya pengetahuan para da’i akan kelemahan hadits-hadits tersebut. Semoga tulisan ini mampu menjadi peringatan bagi kita untuk tidak ikut andil dalam penyebaran hadits-hadits yang lemah, agar kita tidak terjatuh dalam salah satu dosa besar yaitu berdusta atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wasallam. Sebagai catatan penting bahwa diantara hadits yang kami sebutkan ini ada yang kandungan matannya memiliki makna yang benar, namun hal itu tidak menjadi alasan untuk mengatasnamakan perkataan tersebut kepada Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, karena beliau pernah bersabda:

[ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ [ رواه البخاري

Barangsiapa yang berkata atas namaku sesuatu yang tidak pernah aku katakan maka hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dalam Shohihnya; Kitab Al ‘Ilm, Bab Itsmu Man Kadzaba ‘alan Nabi, no 109)

Berikut ini beberapa contoh hadits-hadits lemah yang sering kita dengarkan dalam bulan Ramadhan : Baca lebih lanjut

TAHDZIR AL IKHWAH AL AHIBBAH MIN AL AHADITS AD DHOIFAH AL MUSYTAHIROH (I)

Setelah kami paparkan hukum yang berkaitan dengan hadits-hadits palsu dan hukum mengamalkan hadits dhoif maka insya Allah secara berseri kami akan memuat beberapa contoh hadits-hadits dhoif dan maudhu’ yang banyak beredar di tengah-tengah ummat dalam berbagai media dan kesempatan.

Kami menamakan silsilah ini dengan Tahdzir Al Ikhwah Al Ahibbah minal Ahadits Adho’ifah Al Musytahiroh (Memperingatkan Para Saudara yang Kami Cintai Karena Allah Terhadap Hadits-Hadits Lemah Yang Populer); yang kami maksudkan dengan hadits-hadits lemah adalah dalam semua tingkatannya maka termasuk di dalamnya hadits-hadits palsu atau yang tidak memiliki sanad.

Tentu saja kami menyebutkan hadits-hadits ini agar kita tidak terjatuh dalam kesalahan yang sangat fatal yaitu berdusta atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wasallam. Baca lebih lanjut

HADITS MAUDHU ( PALSU) DAN PENGARUHNYA PADA UMAT ISLAM

Oleh: Abu Fudhail,  Nur Ihsan M.Idris, Lc

1. Definisi Hadits Maudhu’

Secara etimologi : maudhu berasal dari kata وضع yang mempunyai beberapa makna diantaranya

  1. الحط ( merendahkan )
  2. الإسقاط ( menjatuhkan )
  3. الإختلا ق ( mengada-ngadakan )
  4. الالصاق ( menyandarkan / menempelkan )

Makna bahasa ini terdapat pula dalam hadits maudhu karena

1 Rendah dalam kedudukannya.

2 Jatuh ( tidak bisa diambil dasar hukum ).

3 Diada-adakan oleh perawinya.

4 Disandarkan  pada Muhammad shallallohu alaihi wa sallam  sedang beliau  tidak mengatakannya.

Sedang dalam istilah ilmu hadits: hadits maudhu adalah Baca lebih lanjut

HUKUM MERIWAYATKAN DAN MENGAMALKAN HADITS DHO’IF UNTUK FADHOILUL A’MAL DAN YANG LAINNYA

I. TAQDIM[1]

Termasuk musibah terbesar yang menimpa kaum muslimin sejak beberapa abad terdahulu adalah merebaknya hadits-hadits dho’if (lemah) dan maudhu’ (palsu) di antara mereka. Dimana musibah ini umum melanda seluruh kaum muslimin, termasuk jajaran para ulama mereka, kecuali yang diselamatkan oleh Allah Ta’ala dari para imam dan kritikus hadits.

Tersebarnya hadits-hadits dho’if dan palsu ini banyak mengakibatkan kerusakan yang fatal pada seluruh sisi kehidupan beragama umat ini. Diantaranya ada yang berkaitan dengan aqidah, syariat, mu’amalah dan sebagainya, sebagaimana yang akan kami paparkan Insya Allah.

Namun satu karunia Allah Ta’ala yang sangat patut disyukuri, bahwasanya Allah Ta’ala tidak membiarkan hadits-hadits buatan ini beredar begitu saja di tengah-tengah kaum muslimin. Melalui rahmat dan kasih sayang-Nya, Ia mendatangkan dan menghidupkan para imam hadits; pengawal ilmu agama, pembawa bendera al-Sunnah, yang kemudian bangkit menerangkan hakikat dan membongkar kedustaan seluruh hadits-hadits dhaif dan palsu tersebut kepada manusia. Dan hal ini merupakan bentuk penjagaan serta pemeliharaan dari Allah Ta’ala terhadap wahyu-Nya: Baca lebih lanjut